
Jakarta - Harga minyak kembali naik pada akhir perdagangan Senin (29/5) karena Amerika Serikat (AS) mendekati kesepakatan tentang plafon utang. Meski begitu, pasar tetap berhati-hati karena ada kekhawatiran suku bunga Federal Reserve (The Fed) kembali naik hingga menekan permintaan.
Minyak mentah Brent naik 0,2% menjadi US$ 77,07 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 0,3% menjadi ditutup US$ 72,92 per barel.
"Euforia kesepakatan utang berkurang karena kekhawatiran meningkat untuk kenaikan suku bunga oleh Fed pada Juni," kata broker Liquidity Energy LLC dikutip dari Reuters, Selasa (31/5/2023).
Presiden AS Joe Biden dan Ketua DPR Kevin McCarthy telah sepakat menaikkan plafon utang pemerintah federal menjadi US$ 31,4 triliun atau setara Rp 467,86 kuadriliun (kurs Rp 14.900) hingga 1 Januari 2025 untuk mencegah terjadinya gagal bayar (default). Kesepakatan tersebut selanjutnya diajukan ke Kongres untuk pemungutan suara.
Analis melihat kenaikan harga minyak dari itu hanya jangka pendek. Pasar memperkirakan bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada pertemuan 13-14 Juni, naik dari peluang 8,3% yang diprediksi sebulan lalu menurut Alat FedWatch CME.
Pada pertemuan kebijakan terakhirnya 2-3 Mei 2023, The Fed mengisyaratkan untuk menghentikan siklus kenaikan suku bunga yang paling agresif sejak awal 1980-an pada Juni.
"Suku bunga AS yang lebih tinggi merupakan hambatan untuk permintaan minyak mentah," kata analis IG Sydney Tony Sycamore.
Dolar juga turun pada Senin (29/5) karena kesepakatan plafon utang mengangkat selera risiko di pasar dunia dan merusak daya tarik safe-haven dolar. Greenback yang lebih rendah membantu permintaan minyak.
Dicetak ulang dari Detikfinance, hak cipta isi berita dimiliki oleh pemilik asli.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

暂无评论,立马抢沙发