
Bank Indonesia (BI) mengungkap penyebab rupiah melemah ke kisaran Rp16.700 per dolar AS beberapa hari terakhir. Deputi Gubernur BI Destry Damayanti menyebut faktor utama adalah ketidakpastian global yang mendorong investor beralih ke aset aman, seperti dolar AS.
“Kenaikan indeks dolar AS (DXY) dan yield obligasi pemerintah Amerika yang masih tinggi mendorong sentimen risk off di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia,” ujar Destry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur BI secara virtual, Rabu (19/11).
Dampaknya, arus modal asing ke pasar negara berkembang menjadi terbatas, sehingga nilai tukar rupiah dan mata uang regional mengalami tekanan. Meski begitu, volatilitas masih terjadi, contohnya hari ini rupiah justru menguat 0,21 persen mengikuti tren pasar regional.
Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan, pihaknya terus menstabilkan rupiah melalui intervensi di pasar spot, NDF, DNDF, serta pembelian SBN di pasar sekunder. Selain itu, konversi valas oleh eksportir dan pasokan tambahan dari korporasi turut membantu menjaga nilai tukar tetap terkendali.
“Rupiah diperkirakan akan stabil, didukung imbal hasil yang menarik, inflasi rendah, dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap positif,” ujar Perry.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

-THE END-