
Rupiah menutup perdagangan Jumat sore (2/1) dengan tekanan. Di pasar spot, nilai tukar berada di level Rp16.725 per dolar AS, melemah sekitar 0,23% dibanding penutupan sebelumnya. Level ini juga sejalan dengan kurs referensi Bank Indonesia (JISDOR).
Di kawasan Asia, pergerakan mata uang terlihat bercampur. Baht Thailand, yuan China, peso Filipina, dan dolar Singapura bergerak menguat, sementara yen Jepang dan won Korea Selatan justru melemah. Dolar Hong Kong tercatat relatif stabil.
Mata uang utama global juga tidak menunjukkan arah yang seragam. Euro dan franc Swiss melemah, sedangkan poundsterling Inggris menguat tipis. Dolar Australia dan dolar Kanada mencatat penguatan yang lebih solid pada penutupan perdagangan.
Menurut analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, tekanan pada rupiah sore ini dipicu oleh penguatan indeks dolar AS yang cukup signifikan. Selain itu, rupiah masih dibayangi faktor fundamental, mulai dari ekspektasi pemangkasan suku bunga Bank Indonesia hingga kekhawatiran terhadap defisit fiskal.
Data manufaktur domestik yang dirilis pagi tadi dan berada di bawah ekspektasi pasar turut menambah tekanan terhadap rupiah.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

-THE END-