
Nilai tukar rupiah membuka perdagangan awal pekan dengan kinerja positif. Pada Senin (26/1) pagi, rupiah tercatat menguat 42 poin atau sekitar 0,25 persen ke level Rp16.778 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya. Penguatan rupiah terjadi di tengah pergerakan mata uang Asia yang cenderung bervariasi. Yen Jepang tercatat melemah 0,23 persen, disusul baht Thailand yang turun 0,51 persen. Sementara itu, yuan China justru menguat 0,22 persen, peso Filipina melonjak 0,77 persen, dan won Korea Selatan menguat 0,42 persen.
Di kawasan regional lainnya, dolar Singapura juga bergerak positif dengan penguatan 0,20 persen, sedangkan dolar Hong Kong terpantau stagnan. Sementara itu, mata uang utama negara maju kompak berada di zona hijau. Euro Eropa menguat 0,13 persen, poundsterling Inggris naik 0,07 persen, dan franc Swiss menguat 0,18 persen. Penguatan juga terjadi pada dolar Australia sebesar 0,12 persen dan dolar Kanada yang naik 0,18 persen.
Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah kali ini ditopang oleh kombinasi sentimen eksternal dan domestik. Dari luar negeri, tekanan datang dari data ekonomi Amerika Serikat yang lebih lemah dari perkiraan, sehingga mendorong aksi jual dolar AS di pasar global.
“Rupiah berpotensi menguat seiring dolar AS kembali mengalami sell-off setelah rilis data ekonomi AS yang mengecewakan pada Jumat lalu,” ujar Lukman.
Selain faktor global, Lukman juga menekankan peran kebijakan Bank Indonesia (BI) yang dinilai konsisten dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Komitmen BI tersebut masih menjadi penopang sentimen positif bagi pasar, khususnya di tengah ketidakpastian global dan dinamika kebijakan moneter internasional.
Menurut Lukman, dengan kombinasi kedua faktor tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan tetap relatif stabil dengan kecenderungan menguat terbatas.
“Untuk hari ini, rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS,” jelasnya.
Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati perkembangan data ekonomi global dan arah kebijakan bank sentral utama dunia, yang berpotensi memengaruhi pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

-THE END-