XAU
Emas All Time High Lagi!
Update Pasar & Insight Trading — Followme
Pasar global memasuki fase volatilitas tinggi setelah harga emas melonjak menembus level psikologis US$5.200, mencetak all-time high di kisaran US$5.230/oz pada perdagangan di Rabu pagi (28 Jan 2026). Lonjakan ini menegaskan peran emas sebagai safe haven utama di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan Amerika Serikat.
Kenaikan harga emas dipicu kekhawatiran investor terhadap sejumlah langkah kontroversial Presiden AS Donald Trump, mulai dari ancaman terhadap independensi The Fed, wacana pencaplokan Greenland, hingga potensi intervensi militer di Venezuela dan Iran. Pernyataan Trump mengenai “armada AS menuju Iran” serta ancaman tarif 100% terhadap Kanada jika tetap menjalin kerja sama dagang dengan China semakin memperburuk sentimen risiko global.

Kenaikan harga emas dipicu kekhawatiran investor terhadap sejumlah langkah kontroversial Presiden AS Donald Trump, mulai dari ancaman terhadap independensi The Fed, wacana pencaplokan Greenland, hingga potensi intervensi militer di Venezuela dan Iran. Pernyataan Trump mengenai “armada AS menuju Iran” serta ancaman tarif 100% terhadap Kanada jika tetap menjalin kerja sama dagang dengan China semakin memperburuk sentimen risiko global.

Faktor The Fed: Penentu Arah Emas Selanjutnya
Fokus pasar kini tertuju pada pemilihan Ketua The Fed berikutnya, mengingat masa jabatan Jerome Powell akan berakhir pada Mei 2026. Trump menyatakan telah mewawancarai kandidat dan sudah memiliki pilihan.
Jika Trump menunjuk figur yang lebih dovish, ekspektasi penurunan suku bunga AS akan meningkat. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah secara historis sangat mendukung kenaikan harga emas, karena menurunkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil.
Jika Trump menunjuk figur yang lebih dovish, ekspektasi penurunan suku bunga AS akan meningkat. Lingkungan suku bunga yang lebih rendah secara historis sangat mendukung kenaikan harga emas, karena menurunkan opportunity cost memegang aset tanpa imbal hasil.
Dolar AS Melemah Tajam, Sentimen “Weaker Dollar” Menguat
Sejalan dengan reli emas, dolar AS mengalami tekanan signifikan. WSJ Dollar Index mencatat penurunan harian terbesar sejak April, turun 1,1% dalam sehari dan melemah 2,6% dalam empat sesi beruntun, ke level terendah sejak April 2022.
Pelemahan dolar dipicu oleh:
-
Pernyataan Trump yang tidak khawatir terhadap pelemahan dolar
-
Kekhawatiran investor terhadap kepemimpinan ekonomi AS
-
Spekulasi kebijakan yang mendukung dolar lebih lemah untuk mendorong ekspor dan manufaktur
Komentar Trump dinilai pasar sebagai sinyal bahwa pemerintah tidak keberatan dengan dolar yang lebih lemah, mempercepat arus keluar dari greenback.
Rupiah Kembali Tertekan, Isu Independensi Bank Sentral Muncul Lagi
Nilai tukar rupiah melemah ke kisaran IDR 16.724 per dolar AS pada Rabu pagi. Pelemahan ini terjadi seiring munculnya kembali kekhawatiran pasar terhadap independensi Bank Indonesia. Pemicu utamanya adalah persetujuan DPR secara bulat terhadap penunjukan Thomas Djiwandono, keponakan Presiden Prabowo, sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia. Keputusan ini menyingkirkan dua kandidat berlatar belakang bank sentral karier, sehingga memicu kekhawatiran adanya pengaruh politik dalam kebijakan moneter.
Di sisi kebijakan, Bank Indonesia menegaskan masih ada ruang pelonggaran lanjutan, dengan alasan:
Di sisi kebijakan, Bank Indonesia menegaskan masih ada ruang pelonggaran lanjutan, dengan alasan:
-
Ekspektasi inflasi 2026-2027 masih terkendali di kisaran target 1,5%-3,5%
-
Kebutuhan menjaga momentum pertumbuhan ekonomi
Sebagai konteks, BI telah memangkas suku bunga total 150 bps sejak September 2024 dan pada pekan lalu kembali menahan BI Rate di 4,75% untuk keempat kalinya berturut-turut.
Tekanan terhadap rupiah relatif tertahan oleh komitmen BI untuk:
-
Melakukan intervensi terukur di pasar spot dan forward
-
Menjalankan operasi pasar yang pro-market
AUD Menguat ke Dekat Tertinggi 3 Tahun, CPI Panas Picu Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga
Di sisi lain, dolar Australia (AUD) menguat ke kisaran US$0,699, mendekati level tertinggi dalam hampir tiga tahun. Penguatan ini didorong oleh data inflasi Australia yang lebih panas dari perkiraan.
Rinciannya:
-
CPI kuartal IV naik 0,6% QoQ
-
Inflasi tahunan melonjak ke 3,6%, tertinggi dalam enam kuartal
-
Inflasi inti (trimmed mean) naik 0,9% QoQ dan 3,4% YoY, jauh di atas target RBA 2–3%
Ditambah dengan penurunan tingkat pengangguran, pasar menilai ekonomi Australia berjalan lebih panas dari perkiraan. Peluang kenaikan suku bunga RBA sebesar 25 bps pada 3 Februari melonjak ke sekitar 72%, memperkuat daya tarik AUD.


Yen Jepang Menguat, Spekulasi Intervensi AS-Jepang Menguat
Yen Jepang juga menguat signifikan, diperdagangkan di sekitar 152,7 per dolar AS, mendekati level tertinggi tiga bulan setelah reli hampir 4% dalam tiga hari.
Penguatan yen didorong oleh:
-
Spekulasi intervensi bersama Tokyo - Washington
-
“Rate check” oleh New York Fed terhadap pasar USD/JPY
-
Sinyal koordinasi erat antara otoritas Jepang dan AS
Selain itu, Bank of Japan telah menaikkan suku bunga acuannya ke 0,75%, seiring inflasi yang tetap berada di atas target. Normalisasi kebijakan ini memperkuat yen di tengah pelemahan dolar global.


Implikasi untuk Trader
-
Emas: Bias bullish tetap kuat selama ketidakpastian geopolitik dan tekanan terhadap The Fed berlanjut
-
Dolar AS: Tekanan masih dominan, volatilitas tinggi dipicu faktor politik
-
USDIDR: Penguatan rupiah terbatas selama sentimen fiskal-politik belum mereda
-
AUDUSD: Didukung fundamental inflasi dan ekspektasi hawkish RBA
-
USDJPY: Rentan volatilitas ekstrem akibat potensi intervensi resmi
Kesimpulan untuk Trader
Lonjakan emas ke rekor baru, pelemahan dolar AS dan Rupiah, serta penguatan mata uang seperti AUD dan JPY mencerminkan pergeseran besar sentimen global. Pasar kini semakin sensitif terhadap kebijakan politik dan independensi bank sentral, bukan sekadar data ekonomi.
Bagi trader, fase ini menuntut disiplin manajemen risiko, kewaspadaan terhadap headline geopolitik, dan pemahaman bahwa volatilitas bukan anomali, melainkan kondisi pasar saat ini.
Bagi trader, fase ini menuntut disiplin manajemen risiko, kewaspadaan terhadap headline geopolitik, dan pemahaman bahwa volatilitas bukan anomali, melainkan kondisi pasar saat ini.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

-THE END-