
Nilai tukar rupiah mengawali pekan dengan penguatan terbatas. Pada perdagangan Senin pagi (9/2), rupiah berada di level Rp16.872 per dolar AS, menguat tipis sekitar 4 poin atau 0,02 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Meski bergerak positif, penguatan rupiah masih terbilang hati-hati. Pergerakan mata uang di kawasan Asia menunjukkan arah yang bervariasi. Yen Jepang dan baht Thailand tercatat menguat cukup solid, disusul yuan China dan peso Filipina. Sementara itu, won Korea Selatan justru melemah tipis. Di sisi lain, dolar Singapura dan dolar Hong Kong juga dibuka di zona merah.
Sentimen global cenderung lebih kondusif. Mata uang utama negara maju mayoritas menguat terhadap dolar AS. Euro, poundsterling Inggris, dan franc Swiss bergerak di zona hijau. Kondisi serupa juga terlihat pada dolar Australia dan dolar Kanada, yang sama-sama mencatat penguatan di awal perdagangan.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah berpotensi melanjutkan penguatan, meski masih dalam ruang yang terbatas. Menurutnya, sentimen risk on global memberi dukungan bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Namun, faktor domestik dinilai masih menjadi penahan laju penguatan yang lebih agresif.
Pelaku pasar saat ini cenderung bersikap menunggu, terutama menjelang rilis data survei kepercayaan konsumen yang diperkirakan dapat memberikan gambaran kondisi ekonomi domestik ke depan. Data tersebut dinilai penting untuk mengukur daya beli dan optimisme masyarakat, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap pergerakan rupiah.
Untuk hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.800 hingga Rp16.900 per dolar AS. Selama belum muncul katalis kuat, baik dari dalam negeri maupun global, pergerakan rupiah kemungkinan masih akan bersifat konsolidatif.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

-THE END-