
Nilai tukar rupiah kembali mencatat penguatan di awal perdagangan. Pada Selasa pagi (10/2), rupiah berada di level Rp16.790 per dolar AS, menguat sekitar 15 poin atau 0,09 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penguatan rupiah sejalan dengan pergerakan mayoritas mata uang Asia yang dibuka di zona hijau. Yen Jepang dan baht Thailand mencatat kenaikan, diikuti peso Filipina serta won Korea Selatan yang menguat cukup signifikan. Di sisi lain, yuan China justru melemah tipis. Dolar Singapura dan dolar Hong Kong juga terpantau menguat pada pembukaan perdagangan. Sentimen positif juga datang dari mata uang utama negara maju. Euro, poundsterling Inggris, dan franc Swiss kompak bergerak menguat terhadap dolar AS. Tren serupa terlihat pada dolar Australia dan dolar Kanada yang sama-sama mengawali hari dengan kenaikan.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah didorong oleh pelemahan dolar AS di pasar global. Tekanan terhadap dolar muncul setelah beredar laporan bahwa pemerintah China menyarankan lembaga keuangan domestik untuk mengurangi kepemilikan obligasi Amerika Serikat.
Meski demikian, Lukman memperkirakan ruang penguatan rupiah masih terbatas. Pasar cenderung berhati-hati sambil menunggu rilis data domestik penting, khususnya penjualan ritel Indonesia untuk periode Desember, yang dinilai dapat memberikan gambaran arah konsumsi dan kondisi ekonomi ke depan.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS, dengan pergerakan yang masih dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan data ekonomi dalam negeri.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

-THE END-