
Nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan Kamis (19/2). Mata uang Garuda dibuka di posisi Rp16.933 per dolar AS, turun 49 poin atau sekitar 0,29 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini membuat rupiah semakin mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar AS.
Pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi. Yen Jepang, yuan China, peso Filipina, dan won Korea Selatan berada di zona merah. Sebaliknya, baht Thailand mencatat penguatan, sementara dolar Singapura naik tipis dan dolar Hong Kong melemah tipis.
Di kelompok mata uang negara maju, mayoritas justru bergerak menguat terhadap dolar AS. Euro, poundsterling Inggris, dan franc Swiss sama-sama berada di zona hijau. Dolar Australia mencatat penguatan paling signifikan, disusul dolar Kanada.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures Lukman Leong menilai tekanan terhadap rupiah dipicu oleh penguatan dolar AS yang cukup signifikan. Penguatan tersebut didorong oleh rilis sejumlah data ekonomi Amerika Serikat, seperti sektor perumahan, manufaktur, dan penjualan barang tahan lama, yang hasilnya lebih baik dari perkiraan pasar. Selain itu, risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) menunjukkan sikap hawkish dari The Fed, yang semakin memperkuat posisi dolar AS di pasar global.
Dari dalam negeri, pelaku pasar juga mengantisipasi kemungkinan sikap lebih dovish dari Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur yang dijadwalkan berlangsung sore ini. Ekspektasi tersebut turut menekan pergerakan rupiah.
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp16.850 hingga Rp17.000 per dolar AS, dengan potensi volatilitas tetap tinggi seiring dinamika sentimen global dan domestik.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

暂无评论,立马抢沙发