
Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia (BRI) Hery Gunardi menyebut perlambatan pertumbuhan kredit perbankan terjadi karena pelaku usaha memilih menahan ekspansi bisnis.
Menurut Hery, meskipun pemerintah telah mengucurkan saldo anggaran lebih (SAL) ke bank-bank BUMN untuk memperkuat likuiditas, pertumbuhan kredit tetap melambat sepanjang 2024 hingga 2025. Di sisi lain, rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) meningkat sejak Desember 2024 dan bertahan di level tinggi.
Ia menjelaskan kondisi tersebut mencerminkan tekanan arus kas pelaku usaha, khususnya UMKM, yang belum sepenuhnya pulih.
“Pertumbuhan kredit terus melambat sepanjang tahun 2024 hingga 2025. Di saat yang sama, angka NPL mulai meningkat sejak Desember 2024 dan bertahan di level yang lebih tinggi. Hal ini menunjukkan tekanan arus kas pelaku UMKM belum sepenuhnya pulih,” ujar Hery dalam webinar OJK Institute bertajuk Economic Outlook 2026, Kamis (19/2).
Bukan Sekadar Masalah Likuiditas
Hery menilai perlambatan kredit bukan semata disebabkan faktor likuiditas, melainkan juga struktur sektoral ekonomi domestik yang belum sepenuhnya pulih. Tiga sektor utama penyumbang Produk Domestik Bruto (PDB) — manufaktur, pertanian, dan perdagangan — tercatat mengalami pelemahan.
Ketika konsumsi melambat dan margin usaha tertekan, pelaku usaha cenderung menahan ekspansi. Dampaknya langsung tercermin pada pertumbuhan kredit yang ikut melemah.
“Walaupun sudah diguyur dari pemerintah Rp200 triliun, likuiditas tambahan tetap sangat dipengaruhi oleh struktur sektoral ekonomi kita,” jelasnya.
Tantangan Ada pada Kepercayaan Usaha
Menurut Hery, persoalan utama saat ini bukan ketersediaan dana, melainkan tingkat kepercayaan dan prospek usaha ke depan. Pelaku usaha dinilai masih bersikap wait and see terhadap proyeksi pertumbuhan ekonomi dan arah kebijakan moneter.
Ia menegaskan bahwa yang dibutuhkan bukan hanya tambahan likuiditas, tetapi juga penguatan keyakinan dunia usaha agar ekspansi kembali berjalan.
Sementara itu, Bank Indonesia mencatat pertumbuhan kredit perbankan nasional sebesar 9,69 persen secara tahunan (yoy), melambat dibandingkan capaian 2024 yang sebesar 10,39 persen (yoy).
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

暂无评论,立马抢沙发