
Harga emas kembali menunjukkan penguatan setelah sempat mengalami tekanan tajam di awal pekan. Pergerakan logam mulia ini menjadi sorotan pasar karena volatilitas yang cukup tinggi dalam beberapa hari terakhir, terutama dipicu oleh konflik geopolitik di Timur Tengah serta perubahan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.
Pada Selasa, 3 Maret 2026, pasangan XAU/USD justru mengalami penurunan cukup tajam meskipun ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran semakin meningkat. Biasanya kondisi geopolitik seperti ini mendorong kenaikan harga emas sebagai aset safe haven. Namun kali ini pasar mengalami fenomena yang dikenal sebagai “dash for cash”, yaitu situasi ketika investor lebih memilih memegang likuiditas dalam bentuk dolar AS.
Dalam kondisi pasar yang penuh ketidakpastian, kebutuhan terhadap likuiditas meningkat tajam. Permintaan dolar AS melonjak karena banyak pelaku pasar menutup posisi berisiko dan mencari aset yang paling mudah dicairkan. Selain itu, ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga AS juga mulai berkurang akibat kekhawatiran bahwa lonjakan harga energi dapat kembali memicu tekanan inflasi.
Data dari Reuters mencatat bahwa harga spot gold sempat turun sekitar 3,6 persen ke level sekitar US$5.137 per ons. Penurunan tersebut terjadi seiring menguatnya dolar AS serta menurunnya ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve.
Fenomena “Dash for Cash” di Tengah Gejolak Pasar
Pergerakan ini menunjukkan bahwa dalam situasi krisis geopolitik yang juga mendorong kenaikan harga energi, emas tidak selalu langsung menjadi aset utama yang diburu investor. Ketika harga minyak dan gas melonjak dan volatilitas pasar meningkat, banyak pelaku pasar memilih mengamankan likuiditas terlebih dahulu.
Dalam kondisi seperti ini, investor sering menjual aset yang sebelumnya telah memberikan keuntungan, termasuk emas, untuk memenuhi kebutuhan margin, menutup posisi yang merugi, atau sekadar mengurangi risiko portofolio. Fenomena inilah yang membuat emas sesaat kehilangan perannya sebagai safe haven utama.
Emas Mulai Rebound Seiring Meredanya Reli Dolar
Memasuki Rabu, 4 Maret 2026, harga emas mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Penguatan dolar AS mulai melambat, sementara permintaan terhadap aset safe haven kembali muncul karena ketidakpastian geopolitik masih berlangsung.
Spot gold tercatat naik sekitar 0,7 persen ke kisaran US$5.120,71 per ons. Kenaikan ini terjadi ketika investor kembali mempertimbangkan potensi risiko yang lebih panjang dari konflik di Timur Tengah, sehingga meningkatkan minat terhadap aset lindung nilai.
Harga Emas Kembali Menguat Hari Ini
Pada perdagangan Kamis, 5 Maret 2026, harga emas kembali melanjutkan penguatan. Data pasar menunjukkan XAU/USD diperdagangkan di sekitar US$5.179,31 per ons atau naik sekitar 0,74 persen dalam perdagangan hari ini.
Pergerakan ini mencerminkan pola yang sering muncul dalam kondisi pasar penuh ketidakpastian. Pada tahap awal krisis, pasar biasanya mengalami lonjakan permintaan dolar karena kebutuhan likuiditas. Namun setelah fase tersebut mereda, investor mulai kembali menambah eksposur ke emas sebagai perlindungan terhadap risiko geopolitik dan inflasi.
Pasar Masih Sangat Sensitif
Meski harga emas kembali menguat, arah pergerakan intraday masih sangat sensitif terhadap beberapa faktor utama. Di antaranya adalah kekuatan dolar AS, pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta perkembangan terbaru dari konflik geopolitik global.
Selama ketidakpastian masih tinggi, volatilitas di pasar emas diperkirakan tetap besar. Bagi trader dan investor, kondisi ini membuka peluang sekaligus risiko yang lebih tinggi dalam jangka pendek.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

-THE END-