
Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Kamis (26/3) pagi, berada di level Rp16.895 per dolar AS. Mata uang Indonesia naik sekitar 16 poin atau 0,09 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Meski berhasil menguat, kondisi pasar secara keseluruhan masih menunjukkan tekanan, terutama dari faktor global.
Mayoritas Mata Uang Asia Masih Melemah
Di kawasan Asia, sebagian besar mata uang justru bergerak di zona merah.
Beberapa di antaranya:
- Yuan China melemah sekitar 0,05 persen
- Won Korea Selatan turun 0,17 persen
- Dolar Singapura melemah 0,03 persen
- Dolar Hong Kong turun 0,1 persen
- Ringgit Malaysia melemah cukup dalam di 0,54 persen
Sementara itu, yen Jepang terlihat cenderung stagnan.
Mata Uang Global Ikut Tertekan
Tekanan juga terlihat di mata uang negara maju.
- Poundsterling Inggris melemah sekitar 0,04 persen
- Franc Swiss turun 0,04 persen
- Dolar Australia melemah 0,07 persen
Hanya Euro yang berhasil mencatat penguatan tipis sekitar 0,03 persen.
Sentimen Timur Tengah Masih Jadi Beban
Analis mata uang Lukman Leong menilai rupiah masih berpotensi tertekan, meskipun pagi ini sempat menguat. Salah satu faktor utama adalah meningkatnya keraguan pasar terhadap kemungkinan perdamaian di Timur Tengah. Ketika konflik masih berlanjut, investor biasanya kembali mencari aset aman seperti dolar AS, yang akhirnya memberi tekanan pada rupiah.
Harga Minyak Kembali Naik
Selain itu, kenaikan harga minyak juga menjadi faktor tambahan. Bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi, harga minyak yang tinggi berarti kebutuhan dolar meningkat. Ini secara tidak langsung ikut menekan nilai tukar rupiah.
Proyeksi Pergerakan Hari Ini
Untuk perdagangan hari ini, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran: Rp16.850 – Rp16.950 per dolar AS. Artinya, meskipun ada peluang penguatan, pergerakan rupiah masih akan cenderung fluktuatif dan sensitif terhadap sentimen global.
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

-THE END-