- Mata uang berisiko seperti Aussie melesat, sementara yen melemah, seiring meningkatnya selera risiko pasar setelah Senat AS melangkah maju untuk mengakhiri penutupan pemerintahan 40 hari.
- Indeks DXY turun 0,14% ke 99,59; Aussie naik 0,57% ke USD0,6528, didorong pernyataan bernada hawkish dari pejabat RBA, sementara yen tertekan oleh prospek stimulus fiskal Jepang.
- Volume perdagangan rendah menjelang libur Veterans Day, dengan pasar menantikan rilis data ekonomi AS dan peluang pemangkasan suku bunga the Fed 67% pada Desember.
Ipotnews - Mata uang berisiko seperti dolar Australia menguat, Senin, sementara aset safe haven seperti yen Jepang melemah terhadap dolar AS. Sentimen risiko di pasar meningkat setelah muncul tanda-tanda bahwa pemerintahan federal Amerika Serikat semakin dekat untuk dibuka kembali setelah penutupan selama 40 hari.
Senat Amerika, Minggu, melanjutkan pembahasan rancangan kebijakan untuk mengakhiri kebuntuan anggaran dan membuka kembali pemerintahan, demikian laporan Reuters, di New York, Senin (10/11) atau Selasa (11/11) pagi WIB.
Penutupan pemerintahan (government shutdown) yang berlarut-larut itu membuat ratusan ribu pegawai federal dirumahkan, menunda penyaluran bantuan pangan, serta mengacaukan jadwal penerbangan di seluruh negeri.
Menurut Adam Button, Kepala Analis Valuta Asing investingLive Toronto, meningkatnya selera risiko juga dipengaruhi oleh persepsi Partai Demokrat akan dirugikan akibat kegagalan mencapai tujuan politik selama penutupan pemerintahan. Kondisi itu dinilai dapat memperkuat posisi Partai Republik menjelang pemilihan paruh waktu tahun depan dan membuka peluang bagi kebijakan ekonomi yang lebih pro-pertumbuhan.
"Ini tampak seperti kekalahan besar bagi Partai Demokrat, dan dengan dua tahun ke depan di bawah mayoritas Partai Republik, pasar mengantisipasi peningkatan belanja pemerintah," ujar Button. "Kondisi itu positif bagi saham, emas, dan pertumbuhan ekonomi global," tambahnya.
Namun, pergerakan di pasar mata uang relatif terbatas karena volume perdagangan yang rendah menjelang libur Hari Veteran, Selasa. Pasar obligasi AS akan ditutup, sementara aktivitas di pasar valuta asing juga diperkirakan menurun.
"Volume perdagangan tipis menjelang libur besok, dan sebagian besar pelaku pasar menghindari posisi besar karena masih menghadapi ketidakpastian terkait kondisi fundamental ekonomi Amerika," kata Karl Schamotta, Kepala Strategi Pasar Corpay Toronto.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), ukuran greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama, tercatat turun 0,14 persen ke posisi 99,59. Dolar AS stabil terhadap euro di level USD1,564, namun menguat 0,44 persen versus yen menjadi 154,07 yen per dolar.
Sementara itu, dolar Australia melesat 0,57 persen jadi USD0,6528. Mata uang Negeri Kanguru tersebut kerap dijadikan indikator sentimen terhadap pertumbuhan ekonomi global, dan pergerakannya sering sejalan dengan bursa saham, yang juga menguat pada hari yang sama.
Jika penutupan pemerintahan AS benar-benar berakhir, perhatian pasar diperkirakan beralih pada data ekonomi, khususnya laporan ketenagakerjaan non-pertanian (non-farm payrolls) yang tertunda lebih dari sebulan akibat penghentian operasional pemerintah.
Saat ini, pasar memperkirakan peluang sebesar 67 persen bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga pada Desember, meski arah kebijakan tersebut bisa berubah drastis setelah data ekonomi terbaru dirilis.
Dari sisi domestik, beberapa faktor turut memengaruhi pergerakan yen dan Aussie. Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, Senin, menyatakan akan menyusun target fiskal baru yang lebih fleksibel untuk beberapa tahun ke depan, yang secara efektif melonggarkan komitmen negara terhadap konsolidasi fiskal.
Selain itu, ringkasan pandangan Bank of Japan (BOJ) yang dirilis hari yang sama menyebut bahwa "kabut ketidakpastian terhadap prospek ekonomi Jepang mulai menghilang dibandingkan Juli." Hal itu membuka kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember, yang dapat mendukung penguatan yen.
"Ada ekspektasi berlebihan bahwa kebijakan ini akan melanjutkan semangat Abenomics. Kami memperkirakan BOJ akan menaikkan suku bunga lagi," kata Salman Ahmed, analis Fidelity.
Sementara, Wakil Gubernur Reserve Bank of Australia (RBA) Andrew Hauser dalam pidatonya mengatakan bahwa kondisi keuangan negara saat ini mendekati tingkat suku bunga netral--yakni level yang tidak mendorong atau menekan pertumbuhan ekonomi.
"Pidato tersebut terdengar cukup hawkish, sehingga mendorong dolar Australia naik lebih tinggi," tulis analis Westpac dalam catatan mereka. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发