- Dolar AS melemah setelah pemerintah Amerika kembali beroperasi, sementara pasar masih menilai dampak panjang shutdown dan minimnya data ekonomi resmi.
- Ketidakpastian arah kebijakan Federal Reserve serta pandangan beragam pejabatnya menekan sentimen terhadap greenback.
- Euro, poundsterling, dan yen bergerak menguat terhadap dolar, dengan euro menyentuh level tertinggi sejak akhir Oktober.
Ipotnews - Dolar AS tersungkur, Kamis, setelah pemerintah federal kembali dibuka, meninggalkan pelaku pasar bergulat dengan dampak jangka panjang penutupan tersebut terhadap kepercayaan terhadap mata uang Amerika Serikat itu. Trader juga menanti rilis serangkaian data penting mengenai kesehatan ekonomi.
Penutupan pemerintahan (government shutdown) terpanjang dalam sejarah Amerika itu sebelumnya mengacaukan lalu lintas udara, memangkas bantuan pangan bagi warga berpenghasilan rendah, serta membuat lebih dari satu juta pegawai federal tidak menerima gaji selama lebih dari sebulan, demikian laporan Reuters, di New York, Kamis (13/11) atau Jumat (14/11) pagi WIB.
"Shutdown memang sudah berakhir, tetapi kapan semuanya bisa kembali normal? Kapan kita bisa mendapatkan data? Kapan saya bisa melakukan analisis yang akurat berdasarkan statistik resmi AS untuk September dan Oktober? Itu semua masih diragukan," ujar Juan Perez, Direktur Monex USA, Washington.
Penasihat ekonomi Gedung Putih, Kevin Hassett, mengatakan pemerintah akan merilis laporan ketenagakerjaan Oktober, namun tanpa tingkat pengangguran karena survei rumah tangga tidak dilakukan selama masa shutdown.
Data tersebut dapat memengaruhi arah kebijakan Federal Reserve, meski prospek suku bunga masih belum jelas. Kekhawatiran inflasi dan tanda-tanda stabilitas pasar tenaga kerja setelah dua kali pemangkasan suku bunga tahun ini membuat sejumlah pejabat the Fed menunjukkan kehati-hatian untuk melakukan pelonggaran lebih lanjut. Kondisi itu menekan probabilitas pemangkasan suku bunga pada Desember ke bawah 50 persen.
Namun, menurunnya peluang pemotongan suku bunga tidak mampu mengangkat dolar, Kamis. Greenback sempat mendapat dorongan setelah Chairman Fed Jerome Powell, bulan lalu, menyebut pemangkasan suku bunga pada pertemuan Desember belum tentu terjadi, tetapi momentum tersebut kini memudar, ungkap Sarah Ying, analis CIBC Capital Markets, Toronto.
Pejabat bank sentral juga memberikan pandangan berbeda terkait arah kebijakan moneter. Presiden Fed San Francisco Mary Daly menilai risiko terhadap tujuan stabilitas harga dan lapangan kerja kini seimbang. Sementara Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari melihat sinyal campuran, dengan inflasi sekitar 3 persen masih terlalu tinggi, namun beberapa sektor pasar kerja mulai tertekan.
Presiden Fed Cleveland Beth Hammack menegaskan kebijakan suku bunga sebaiknya tetap ketat untuk menekan inflasi yang masih mengkhawatirkan. Sedangkan Presiden Fed St Louis Alberto Musalem menilai kebijakan berada lebih dekat ke level netral, sehingga ruang pelonggaran semakin terbatas tanpa risiko menjadi terlalu akomodatif.
Indeks Dolar (Indeks DXY) yang mengukur greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama turun 0,35 persen ke 99,14. Euro naik 0,4 persen menjadi USD1,1638, tertinggi sejak 29 Oktober, sekaligus menembus tren penurunan yang terbentuk sejak 17 September. Sementara dolar melemah 0,22 persen terhadap yen ke posisi 154,43.
Rabu, dolar sempat mencapai level tertinggi sembilan bulan terhadap yen setelah Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menyatakan preferensi pemerintahannya agar suku bunga tetap rendah dan menyerukan koordinasi erat dengan Bank of Japan.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama juga memperingatkan pelemahan yen yang mendekati 155 per dolar, seraya menyoroti pergerakan pasar yang terlalu cepat dan sepihak. Kamis, yen bahkan menyentuh titik terlemah terhadap euro sejak 1999, ketika mata uang tunggal Eropa itu diperkenalkan.
Pelemahan yen berpotensi memaksa Bank of Japan mendongkrak suku bunga bulan depan, meski pasar hanya memperkirakan peluang sekitar 24 persen untuk kenaikan seperempat poin pada Desember.
Di Eropa, poundsterling menguat meski data menunjukkan ekonomi Inggris nyaris stagnan pada kuartal ketiga akibat gangguan dari serangan siber pada September. Sterling terakhir naik 0,47 persen menjadi USD1,3192.
Dolar Australia sempat menyentuh level tertinggi dua minggu setelah data resmi memperlihatkan penurunan tajam tingkat pengangguran dari posisi tertinggi empat tahun. Data tersebut mengurangi kemungkinan pemangkasan suku bunga lebih lanjut. Namun kemudian mata uang itu kembali melemah dan terakhir turun 0,12 persen ke USD0,653. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发