- Harga minyak turun setelah pemuatan di pelabuhan Novorossiysk Rusia kembali normal meski serangan Ukraina terus menambah risiko pasokan.
- Geopolitik dan sanksi Barat terhadap Rusia menjaga volatilitas pasar, sementara OPEC + mempertahankan rencana kenaikan produksi moderat.
- Prospek harga beragam: lembaga riset melihat surplus pasokan hingga 2026, namun UBS menilai harga tetap ditopang karena stok darat belum meningkat.
Ipotnews - Harga minyak melemah, Senin, setelah Rusia kembali melanjutkan aktivitas pengapalan di terminal ekspor Novorossiysk, menyusul penangguhan selama dua hari akibat serangan Ukraina di kawasan Laut Hitam. Namun, pasar tetap waspada terhadap risiko gangguan pasokan menyusul meningkatnya serangan terhadap infrastruktur energi Rusia.
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup turun 19 sen atau 0,3% menjadi USD64,20 per barel, demikian laporan Reuters, di Houston, Senin (17/11) atau Selasa (18/11) pagi WIB.
Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), berkurang 18 sen atau 0,3% menjadi USD59,91 per barel.
Kedua patokan itu sebelumnya melonjak lebih dari 2% pada sesi Jumat setelah penghentian sementara ekspor di Novorossiysk dan terminal Caspian Pipeline Consortium, yang berdampak pada sekitar 2% suplai minyak global.
Menurut sumber industri dan data LSEG , Novorossiysk kembali melakukan pengapalan pada Minggu. Meski demikian, serangan Ukraina terhadap fasilitas energi Rusia tetap menjadi perhatian pasar. Militer Ukraina mengklaim telah menyerang kilang minyak Ryazan pada Sabtu, dan Staf Umum Ukraina melaporkan serangan terhadap kilang Novokuibyshevsk di wilayah Samara sehari setelahnya.
Analis Fujitomi Securities, Toshitaka Tazawa, mengatakan investor saat ini mencoba menilai sejauh mana serangan Ukraina dapat memengaruhi ekspor minyak Rusia dalam jangka panjang.
Di sisi lain, dampak sanksi negara Barat terhadap pasokan dan arus perdagangan minyak Rusia juga menjadi sorotan. Amerika Serikat mulai memberlakukan larangan transaksi dengan perusahaan minyak Rusia, Lukoil dan Rosneft, setelah 21 November sebagai upaya menekan Moskow menuju negosiasi damai.
Presiden AS Donald Trump, Minggu, menyatakan Partai Republik tengah merancang aturan yang akan menjatuhkan sanksi bagi negara mana pun yang masih bermitra dengan Rusia, serta membuka kemungkinan Iran masuk dalam daftar tersebut.
Sementara itu, OPEC + bulan ini menyepakati peningkatan target produksi untuk Desember sebesar 137.000 barel per hari, sama seperti kenaikan Oktober dan November, serta menunda penambahan pasokan pada kuartal pertama tahun depan.
Namun, laporan ING memperkirakan pasar minyak akan berada dalam surplus besar hingga 2026, meski risiko gangguan pasokan akibat serangan drone Ukraina serta ketegangan di Selat Hormuz tetap meningkat.
Volatilitas harga minyak diperkirakan berlanjut seiring tingginya risiko geopolitik dan ekspektasi meningkatnya pasokan global, ungkap Dennis Kissler, Vice President BOK Financial.
Data terbaru menunjukkan spekulan meningkatkan net long position ICE Brent sebesar 12.636 lot menjadi 164.867 lot pekan lalu, terutama akibat aksi short-covering sebagai respons terhadap ketidakpastian sanksi.
Analis UBS Giovanni Staunovo menilai harga minyak masih akan mendapatkan dukungan karena kenaikan volume oil-on-water belum terlihat meningkatkan stok darat. UBS memperkirakan harga bergerak turun ke batas bawah rentang perdagangan dalam beberapa bulan ke depan, namun lebih konstruktif terhadap prospek harga pada paruh kedua 2026.
Sebaliknya, Goldman Sachs memproyeksikan harga minyak akan terus melemah hingga 2026, didorong lonjakan produksi global yang membuat pasar berada dalam surplus sekitar 2 juta barel per hari. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发