- Rupiah stabil di sekitar 16.761 sambil menunggu arah kebijakan BI.
- Pasar mencermati Pertumbuhan Kredit dan keputusan suku bunga BI sebagai katalis utama.
- Ekspektasi The Fed yang melemah dan rilis NFP menjadi penentu sentimen eksternal.
Gerak rupiah pada Selasa memperlihatkan jeda alami sebelum pasar memutuskan arah berikutnya. Pasangan mata uang USD/IDR bergerak di sekitar 16.761, sedikit lebih tinggi dibanding penutupan Senin di 16.706, dengan rentang dalam perdagangan harian 16.718-16.772. Kenaikan ringan ini lebih menggambarkan pasar yang sedang menakar ulang stabilitas menjelang keputusan Bank Indonesia, alih-alih reaksi terhadap tekanan domestik yang signifikan.
Jika dilihat sejak awal Oktober, rupiah mempertahankan pola mendatar yang relatif kokoh. Area 16.650-16.750 menjadi ruang konsolidasi yang sering diuji, sementara lonjakan dolar ke kisaran 16.800 sempat terjadi tanpa mendorong pelemahan lanjutan. Untuk hari ini, pelaku pasar melihat potensi pergerakan di rentang 16.700-16.780, mencerminkan sikap berhati-hati sebelum katalis besar dirilis.
Sikap menunggu itu semakin terasa karena bagi pelaku keuangan, level 16.700 sering menjadi titik psikologis yang menentukan perubahan nada. Di wilayah inilah penilaian pasar kerap beralih: apakah rupiah cukup kuat mempertahankan stabilitasnya, atau membutuhkan dukungan komunikasi dari otoritas moneter.
Pasar Menanti Rilis Kredit dan Keputusan BI-Rate pada Rabu sebagai Penentu Arah Rupiah
Sementara itu, rangkaian indikator domestik yang akan dirilis Rabu pagi turut menjadi fokus. Data Pertumbuhan Kredit Oktober, yang sebelumnya berada di 7,7% YoY, akan membantu membaca keseimbangan antara penyaluran kredit dan daya serap permintaan domestik. Pasar memantau apakah tren kredit mampu bertahan di tengah aktivitas yang masih moderat.
Menjelang Rabu sore, perhatian bergeser ke Keputusan Suku Bunga Bank Indonesia pukul 14:30 WIB. Konsensus memprakirakan BI-Rate tetap di 4,75%, sejalan dengan kebutuhan menjaga stabilitas nilai tukar dan menahan tekanan inflasi inti. Tingkat Deposit Facility (3,75%) dan Lending Facility (5,50%) juga diprakirakan tidak berubah, mempertahankan struktur likuiditas jangka pendek yang sudah berjalan.
Pelemahan rupiah mendekati 4% sejak awal tahun ikut mempersempit ruang pelonggaran agresif. Walaupun inflasi Oktober naik ke 2,86%, Gubernur Perry Warjiyo sebelumnya menilai ruang pemangkasan masih tersedia, sambil menyoroti lambatnya penurunan bunga kredit perbankan sebagai hambatan utama transmisi kebijakan. Survei Reuters memperlihatkan 24 dari 30 ekonom memprakirakan BI tetap menahan suku bunga, sementara sebagian lainnya membuka kemungkinan pemotongan 25 bp. Untuk ke depan, mayoritas analis memproyeksikan langkah menuju 4,50% pada Desember, dengan peluang lanjutan menuju 4,25% pada kuartal I 2026.
Ekspektasi The Fed Melemah, Dolar Kehilangan Momentum di Tengah Kembalinya Rilis Data AS
Dari eksternal, dinamika dolar AS kembali berubah arah. Peluang pemangkasan suku bunga The Fed pada Desember turun di bawah 50% berdasarkan FedWatch CME, menyusul jeda panjang rilis data akibat shutdown pemerintah AS terlama dalam sejarah. Situasi ini gagal memberikan dukungan tambahan pada dolar, apalagi setelah Wakil Ketua The Fed Philip Jefferson menegaskan bahwa inflasi memang mereda, tetapi pendekatan menuju kebijakan netral harus dilakukan secara bertahap. Kekhawatiran pasar terhadap dampak ekonomi dari penutupan pemerintahan yang berkepanjangan turut menahan momentum penguatan Greenback.
Dengan pemerintah AS kini kembali beroperasi, perhatian global beralih ke rilis data besar yang tertunda, terutama NFP Kamis, serta risalah rapat FOMC pada Rabu yang berpotensi mengubah ekspektasi pasar secara cepat.
Rupiah Masuk Fase Menunggu Jelang Sinyal Kebijakan BI dan Data AS
Untuk rupiah, semua katalis hari ini menempatkannya dalam fase menanti. Pasar seperti menahan napas sebelum BI menunjukkan arah bauran kebijakan berikutnya. Jika keputusan BI mengonfirmasi stabilitas tanpa perubahan mengejutkan, rupiah berpeluang menjaga rentang konsolidasinya. Namun, setiap sinyal berbeda – baik dari BI maupun dari pasar tenaga kerja AS – akan menentukan apakah rupiah bisa tetap tenang atau justru harus menyesuaikan diri kembali dengan dinamika global.
Indikator Ekonomi
Tingkat Suku Bunga Bank Indonesia
Keputusan Tingkat Suku Bunga diumumkan oleh Bank Indonesia. Kebijakan Moneter mengacu pada tindakan yang dilakukan oleh otoritas moneter suatu negara, bank sentral atau pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu dalam ekonomi nasional. Hal ini didasarkan pada hubungan antara suku bunga di mana uang dapat dipinjam dan pasokan total uang.
Baca lebih lanjutRilis berikutnya Rab Nov 19, 2025 07.30
Frekuensi: Tidak teratur
Konsensus: 4.75%
Sebelumnya: 4.75%
Sumber: Bank Indonesia
作者:Tim FXStreet,文章来源FXStreet_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

暂无评论,立马抢沙发