- Harga CPO berjangka stabil, didukung kenaikan soyoil, namun apresiasi ringgit dan kekhawatiran permintaan November membatasi penguatan.
- Permintaan global melemah, termasuk impor minyak nabati di UE, sementara harga minyak mentah turun sehingga mengurangi daya tarik CPO untuk biodiesel.
- Secara teknikal, harga CPO berpotensi melanjutkan kenaikan menuju 4.282-4.303 ringgit per ton.
Ipotnews - Minyak sawit mentah (CPO) berjangka Malaysia bergerak mendatar, Rabu, didukung penguatan harga minyak kedelai, meski kenaikan lebih lanjut terhambat oleh apresiasi ringgit serta keraguan terhadap permintaan bulan ini.
Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Januari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 10 ringgit atau 0,24% menjadi 4.219 ringgit (USD1.017,61) per ton metrik pada jeda perdagangan tengah hari. Kontrak tersebut sebelumnya mencatat reli selama empat sesi berturut-turut, demikian laporan Reuters, di Kuala Lumpur, Rabu (19/11).
Direktur Pelindung Bestari yang berbasis di Selangor, Paramalingam Supramaniam, mengatakan penguatan harga CPO sejalan dengan kenaikan minyak kedelai (soyoil). Namun, dia menekankan bahwa kekhawatiran terhadap permintaan November serta penguatan ringgit menahan potensi kenaikan harga.
Menurutnya, hingga terdapat kejelasan mengenai prospek permintaan bulan ini--yang berdasarkan data awal terlihat kurang menggembirakan--ruang penguatan harga cenderung terbatas.
Di bursa Dalian, kontrak soyoil teraktif naik 0,75%, sementara kontrak minyak sawit melambung 1,7%. Harga soyoil di Chicago Board of Trade turun tipis 0,04%.
Pergerakan harga CPO kerap mengikuti tren minyak pesaing karena produk tersebut berkompetisi dalam pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Sementara itu, harga minyak mentah melemah setelah laporan industri menunjukkan lonjakan persediaan minyak mentah dan bahan bakar di Amerika Serikat, pekan lalu. Kenaikan stok tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa pasokan global melebihi permintaan.
Pelemahan harga minyak mentah membuat CPO menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.
Ringgit, mata uang perdagangan CPO, menguat 0,34% terhadap dolar AS sehingga membuat komoditas tersebut menjadi sedikit lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.
Data Komisi Eropa memperlihatkan impor kedelai Uni Eropa untuk musim 2025/2026 yang dimulai pada Juli mencapai 4,40 juta ton metrik per 16 November, merosot 16% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Impor CPO juga melorot 18% menjadi 1,08 juta ton.
Analis teknikal Reuters, Wang Tao, memperkirakan CPO berpotensi melanjutkan penguatan menuju kisaran 4.282 hingga 4.303 ringgit per ton metrik berdasarkan pola double-bottom dan analisis proyeksi teknikal. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发