The Fed Skeptis Pada Peluang Pemangkasan Suku Bunga Desember, Rupiah Melemah

avatar
· 阅读量 42
  • Rupiah melemah karena skeptisisme The Fed terhadap peluang pemangkasan suku bunga Desember, didorong penguatan indeks dolar AS dan risalah FOMC yang menunjukkan pejabat The Fed masih terbelah soal arah kebijakan.
  • Pasar menunggu data ketenagakerjaan AS yang dapat mengubah ekspektasi suku bunga, sementara tensi geopolitik meningkat setelah laporan AS-Rusia menggodok proposal baru untuk mengakhiri konflik Ukraina.
  • Fundamental eksternal Indonesia tetap kuat, ditopang surplus transaksi berjalan kuartal III-2025, aliran masuk portofolio USD1,8 miliar, serta cadangan devisa naik menjadi USD149,9 miliar yang cukup untuk 6,2 bulan impor.

Ipotnews - Kurs rupiah kembali bergerak melemah pada perdagangan hari ini, setelah meningkatnya skeptisisme para pejabat Federal Reserve terhadap peluang pemangkasan suku bunga acuan pada Desember 2025, menekan sentimen pasar keuangan global.
Mengutip data Bloomberg, Kamis (20/11) pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup pada level Rp16.736 per dolar Amerika Serikat (AS), melemah 28 poin atau 0,17% dibandingkan penutupan Rabu (19/11) di Rp16.708 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan penguatan indeks dolar AS pada perdagangan Kamis menjadi pemicu utama tekanan terhadap rupiah.
Atmosfer pasar global kembali dipenuhi ketidakpastian setelah risalah rapat FOMC Oktober menunjukkan para pejabat The Fed masih terbelah terkait langkah kebijakan pada akhir tahun.
Sebagian besar peserta rapat menilai penurunan suku bunga lanjutan kemungkinan tetap diperlukan seiring waktu. Namun beberapa pejabat menegaskan bahwa pemangkasan suku bunga pada Desember tidak tepat mengingat risiko inflasi yang masih membayangi.
"Banyak peserta berpendapat bahwa berdasarkan pandangan mereka, mempertahankan suku bunga tidak berubah selama sisa tahun ini adalah langkah yang tepat," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya, sore ini.
Pasar kini menanti rilis laporan ketenagakerjaan AS bulan September yang tertunda. Konsensus ekonom memperkirakan penambahan 50.000 tenaga kerja, lebih tinggi dari 22.000 pada Agustus. Angka di bawah proyeksi dapat mengubah peta ekspektasi suku bunga secara signifikan.
Dari sisi geopolitik, pasar juga mencermati laporan Reuters bahwa AS dan Rusia tengah menggodok proposal baru untuk menyudahi konflik Ukraina. Draft yang dikabarkan meminta Kyiv menyerahkan sebagian wilayah dan persenjataan, berpotensi memicu reaksi global baru.
Di tengah tekanan eksternal tersebut, Bank Indonesia menegaskan fundamental eksternal Indonesia masih terjaga. BI memperkirakan transaksi berjalan 2025 berada pada rentang surplus 0,1% hingga defisit 0,7% PDB, mencerminkan ketahanan ekonomi nasional.
Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) diproyeksi tetap resilien, ditopang oleh defisit transaksi berjalan yang rendah dan potensi peningkatan aliran modal. Pada kuartal III-2025, transaksi berjalan diperkirakan mencatat surplus didorong kenaikan ekspor nonmigas, termasuk CPO ke India, perhiasan ke Swiss, dan batu bara ke Tiongkok.
Dari sisi arus modal, investasi langsung (FDI) tetap kuat. Portofolio sempat mencatat net outflows akibat gejolak global, namun kondisi membaik pada kuartal IV. Hingga 17 November 2025, portofolio mencatat net inflow USD1,8 miliar, terutama masuk ke pasar saham.
"Selain itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Oktober 2025 meningkat menjadi USD149,9 miliar. Peningkatan ini memperkuat kemampuan Indonesia dalam menjaga stabilitas eksternal. Sehingga Indonesia memiliki kecukupan untuk membiayai 6,2 bulan impor atau 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka itu jauh melampaui standar kecukupan internasional yang berada di kisaran tiga bulan impor," jelas Ibrahim.
Posisi cadangan devisa Indonesia per akhir Oktober juga naik menjadi USD149,9 miliar, cukup untuk membiayai 6,2 bulan impor--jauh di atas ambang standar internasional.
Untuk perdagangan Jumat (21/11), Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dan cenderung melemah pada kisaran Rp16.730-Rp16.790 per dolar AS, seiring sentimen global yang masih didominasi arah kebijakan The Fed.(Adhitya/AI)

Sumber : admin

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest