Pandangan Jangka Menengah Tidak Berubah: Pemangkasan Suku Bunga Kemungkinan Berlanjut - Ashmore

avatar
· 阅读量 6,038

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ketiga November 2925, Jumat (21/11), dengan mencatatkan penurunan tipis 0,07% di posisi 8.414, namun masih lebih tinggi dibanding sesi penutupun akhir pekan sebelumnya di level 8.370. Investor asing di pasar saham mencatat aliran masuk dana sebesar USD235 juta.
 Weekly Commentary , PT Ashmore Asset Manament Indonesia mencatat beberapa indikatorpenting yang terjadi sepanjang pekan, antara lain;
Pandangan Jangka Menengah Tidak Berubah: Pemangkasan Suku Bunga Kemungkinan Berlanjut - Ashmore
Apa yang terjadi sepanjang pekan ini?
Ashmore mencatat sektor yang berkinerja baik adalah Properti & Real Estate serta Consumer Cyclicals, masing-masing melonjak +4,09% dan +3,82%. Ssedangkan sektor yang tertinggal adalah Basic Materials dan Transportation & Logistics yang masing-masing anjlok -2,78% dan -2,22%.
Berdasarkan kelas aset, komoditas yang unggul pekan ini adalah CPO (+3,43%) dan batubara (+1,29%), sementara koreksi terdalam terjadi pada Bitcoin (-11,96%) dan Indeks Hang Seng (-5,09%).
Di Amerika Serikat, data pasar tenaga kerja menunjukkan hasil yang beragam. Tingkat pengangguran bulan September naik ke level tertinggi sejak Oktober 2021, berlawanan dengan ekspektasi bahwa angka tersebut akan bertahan di 4,3%. Namun, terdapat sinyal kekuatan dari data Non-Farm Payrolls yang mencatat pertumbuhan pekerjaan terkuat dalam lima bulan dan melampaui ekspektasi.
Di Kanada, inflasi utama melambat lebih dari perkiraan terutama akibat turunnya harga bensin, sementara inflasi inti justru naik ke level tertinggi sejak Agustus 2023.
Di Eropa, kepercayaan konsumen di kawasan itu tidak berubah dari bulan sebelumnya dan berada di level tertinggi dalam delapan bulan, meskipun konsumen tetap berhati-hati di tengah meredanya tekanan inflasi. PMI manufaktur turun ke level terendah dalam lima bulan dan masuk fase kontraksi, berbeda dengan konsensus yang memperkirakan sedikit ekspansi.
Sebaliknya, sektor jasa mencatat ekspansi terkuat dalam 18 bulan. Di Jerman, tekanan deflasi pada harga produsen berlanjut untuk bulan kedelapan berturut-turut, terutama dipengaruhi oleh biaya energi yang lebih rendah. Sektor manufaktur kembali mengalami kontraksi terdalam dalam enam bulan, sementara pertumbuhan sektor jasa lebih lemah dibandingkan ekspektasi.
Sementara itu di Asia, ekonomi Jepang mengalami kontraksi sesuai perkiraan, namun tidak sedalam yang diproyeksikan pasar. Ini merupakan kontraksi kuartalan pertama sejak Kuartal I 2024, dipengaruhi oleh melemahnya konsumsi rumah tangga dan penurunan ekspor. Di Indonesia, Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan sesuai ekspektasi, dengan fokus pada stabilitas Rupiah.
Data yang beragam meningkatkan ketidakpastian
Ashmore mencermati, pekan ini, pasar AS tetap bergejolak meskipun laporan kinerja NVIDIA yang lebih baik dari perkiraan sempat mendorong pasar saham AS. Sentimen investor terhadap valuasi mahal saham bertema AI masih membebani kinerja indeks secara keseluruhan.
Selain itu, data pasar tenaga kerja yang dirilis menunjukkan sinyal beragam: tingkat pengangguran naik ke level tertinggi sejak Oktober 2021, sementara Non-Farm Payrolls mencatat pertumbuhan lapangan kerja terkuat dalam lima bulan dan melampaui konsensus.
"Sayangnya, volatilitas pasar AS tidak hanya dipengaruhi oleh kekhawatiran atas valuasi, tetapi juga data ekonomi yang beragam tersebut - yang semakin menekan ekspektasi pemangkasan suku bunga pada pertemuan FOMC bulan depan," tulis Ashmore.
Hanya dalam satu bulan sejak pernyataan Powell, yang memberi sinyal ketidakpastian keputusan pada pertemuan berikutnya, pasar telah menggeser ekspektasi suku bunga The Fed pada akhir tahun dari 3,6% menjadi 3,8%, setara dengan satu kali pemangkasan yang hilang. Terlepas dari pergerakan jangka pendek, Ashmore melihat, pasar tetap yakin bahwa suku bunga akan berada pada tren penurunan, terlihat dari imbal hasil obligasi AS yang turun sekitar 10 bps. UST 10Y turun ke 4,05% dan UST 2Y turun ke 3,5%, meskipun peluang pemangkasan suku bunga pada Desember hanya sekitar 30%.
Di dalam negeri, Ashmore berpendapat, keputusan Bank Indonesia sudah tidak menjadi kejutan (berbeda dengan beberapa kejutan sebelumnya berturut-turut), dengan suku bunga tetap di 4,75%. Fokus utama tetap pada stabilitas Rupiah, yang meski relatif lemah namun stabil di sekitar 16.700 dalam sebulan terakhir saat bank sentral bersikap lebih berhati-hati. "Namun, pembuat kebijakan terus memantau transmisi penurunan suku bunga ke suku bunga kredit yang masih lambat meski BI sudah memangkas suku bunga sebesar 125 bps," imbuh Ashmore.
Meskipun BI menahan suku bunga, Ashmore meyakini jeda ini tidak menandai berakhirnya siklus pelonggaran, mengingat kondisi pasar global yang masih bergejolak. Selain itu, inflasi Indonesia masih berada dalam target BI, sementara ekonomi domestik berpotensi mendapat dorongan dari suku bunga kebijakan yang lebih rendah. "BI juga berhati-hati dalam menjaga stabilitas Rupiah sekaligus memberikan insentif untuk memperbaiki transmisi penurunan suku bunga terhadap kredit perbankan," Ashmore manambahkan.
Ashmore menilai, pandangan jangka menengah tetap tidak berubah: pemangkasan suku bunga oleh BI maupun bank sentral global kemungkinan berlanjut, sehingga imbal hasil obligasi berpotensi mendapat tekanan turun. "Dengan demikian, kami tetap optimistis pada obligasi berdurasi panjang sambil menjaga likuiditas tinggi. Kami merekomendasikan ADUN untuk obligasi USD dan ADON untuk obligasi IDR, yang keduanya didominasi surat utang pemerintah Indonesia berdurasi panjang," sebut Ashmore.
Selain instrumen pendapatan tetap, Ashmore tetap optimistis terhadap saham Indonesia, di mana mulai terlihat pemulihan dan peluang menjelang tahun depan. Arus dana asing terlihat kembali masuk kuat dalam beberapa minggu terakhir, dengan  net inflow  mencapai USD1,86 miliar sejak pertengahan September, meski secara YTD masih mencatat  net outflow .
"Seiring berlanjutnya siklus pelonggaran global, selera risiko investor global dapat meningkat dan menjadi katalis tambahan bagi saham  emerging market  seperti Indonesia. Kami tetap selektif pada saham-saham berkualitas dengan fundamental kuat dalam siklus saat ini." (Ashmore)
Pandangan Jangka Menengah Tidak Berubah: Pemangkasan Suku Bunga Kemungkinan Berlanjut - Ashmore

Sumber : Admin

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest