Performa Perak Lampaui Emas, Didukung Lonjakan Permintaan dan Defisit Pasokan

avatar
· 阅读量 344
  • Harga perak melonjak jauh lebih kuat daripada emas sejak 2023, ditopang defisit pasokan struktural dan permintaan industri, khususnya panel surya.
  • Permintaan perak untuk teknologi surya melesat dan diproyeksikan bertambah sekitar 150 juta ons per tahun pada 2030.
  • Pasar perak menghadapi defisit besar lebih dari 500 juta ons pada 2024 dan potensi penurunan produksi menjelang 2030.

Ipotnews - Selama ini, perak kerap dipandang sebagai "pemain kedua" di pasar logam mulia, teredam popularitas emas yang lebih sering mendapat sorotan.
Namun, menurut Clyde Russell, Kolumnis Komoditas dan Energi Reuters, dalam setahun terakhir, perak justru mencatatkan kinerja yang lebih kuat, didorong defisit pasokan struktural dan meningkatnya permintaan dari teknologi energi terbarukan seperti panel surya.
Harga perak di pasar spot berada dalam tren naik sejak Oktober 2023, meroket 163% dari level terendah USD20,67 per ons pada 3 Oktober 2023 hingga mencapai rekor tertinggi USD54,38 pada 13 November tahun ini. Harga kemudian terkoreksi 5,6% dan ditutup di posisi USD51,33 per ons pada Rabu, seperti dilansir  Reuters,  di Launceston, Kamis (27/11).
Sebagai perbandingan, emas melejit 142% dari level terendah USD1.813,90 per ons pada 3 Oktober 2023 hingga mencetak rekor baru USD4.381,21 pada 20 Oktober, sebelum merosot 5% dan ditutup di USD4.163,51, Rabu.
"Meski selisih kinerja keduanya tidak terlalu besar, kenaikan perak terjadi dengan sorotan media yang jauh lebih minim dibandingkan emas," kata Russell.
Sejarah juga mencatat perak memiliki potensi imbal hasil lebih tinggi ketimbang emas. Antara Oktober 2008 hingga April 2011, perak melesat 431% hingga menyentuh rekor saat itu di USD48,24 per ons.
Dalam periode yang sama, emas hanya melonjak 168% hingga mencapai level tertinggi USD1.920,30 per ons pada September 2011.
"Logam kuning lebih sering menjadi fokus pemberitaan karena perannya sebagai aset lindung nilai dan penggunaannya dalam perhiasan," tutur dia.
Lonjakan harga logam mulia belakangan ini dipicu oleh kembali terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat, yang memunculkan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter serta kekhawatiran terhadap stabilitas aset-aset AS, seperti obligasi pemerintah.
Russell mengatakan pembelian besar-besaran oleh bank sentral dan minat investor terhadap ETF emas maupun emas batangan ikut mempercepat reli ini.
Perak turut terdorong oleh tren tersebut, meski penyimpanannya yang lebih mahal membuatnya kurang diminati sebagai aset fisik dibanding emas.
Lonjakan Panel Surya
Prospek perak lebih cerah dalam jangka panjang karena meningkatnya permintaan industri yang tidak sebanding dengan kemampuan pasokan untuk bertambah.
Data LSEG menunjukkan permintaan industri perak melambung menjadi 689,1 juta ons pada 2024, dari 644 juta ons pada 2023.
Dari jumlah itu, 243,7 juta ons digunakan untuk memproduksi panel surya--melesat dari 191,8 juta ons pada tahun sebelumnya dan meningkat 158% dibandingkan 94,4 juta ons pada 2020.
Penambahan kapasitas tenaga surya global mencapai sekitar 600 gigawatt (GW) pada 2024 dan diperkirakan mendekati 1.000 GW pada 2030.
Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan tambahan kapasitas baru sebesar 4.000 GW selama 2024-2030.
Proyeksi tersebut memperlihatkan permintaan perak dari sektor surya saja dapat naik sekitar 150 juta ons per tahun pada 2030, atau setara tambahan 13% dari total permintaan fisik 2024 yang mencapai 1,169 miliar ons.
Kendati permintaan dari sektor lain seperti perhiasan mungkin tertekan oleh harga yang tinggi, pasar diperkirakan tetap kesulitan memenuhi seluruh kebutuhan.
LSEG mencatat defisit perak sebesar 501,4 juta ons pada 2024, melonjak tajam dari defisit 19,4 juta ons pada 2023.
Sebagian besar perak merupakan produk sampingan dari pertambangan tembaga, timbal (lead), seng (zinc), dan emas. "Akibatnya, peningkatan pasokan lebih bergantung pada dinamika pasar logam-logam tersebut, bukan pada kebutuhan perak itu sendiri," ungkap Russell.
Meski sentimen positif terhadap tembaga dan emas dapat mendorong kenaikan produksi perak, perluasan tambang atau pengembangan proyek baru membutuhkan waktu lama untuk terealisasi.
Pasokan juga berpotensi tertekan oleh penutupan sejumlah tambang menjelang 2030. Laporan di situs industri Mining Technology pada Juli memperkirakan produksi global perak merosot menjadi 901 juta ons pada 2030, dari estimasi 944 juta ons tahun ini. (Reuters/AI)

Sumber : Admin

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest