- Rupiah melemah akibat data ekonomi AS yang beragam, seperti NFP yang kuat, PPI inti yang melemah, penjualan ritel melambat, dan tingkat pengangguran naik. Dolar menguat sehingga rupiah ditutup di Rp16.675 per dolar AS.
- Pasar masih yakin The Fed akan memangkas suku bunga 25 bps pada Desember 2025 dengan probabilitas 85%. Sentimen geopolitik terkait dorongan baru AS dalam upaya perdamaian Ukraina-Rusia turut memengaruhi pasar.
- Dari dalam negeri, pemerintah menggelontorkan total Rp276 triliun ke Himbara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal IV-2025 sebesar 0,2%, seiring stimulus Nataru dan BLT. Rupiah diperkirakan bergerak di rentang Rp16.670-Rp16.710 pada awal pekan depan.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat (28/11), karena sentimen negatif datang dari rilis data perekonomian Amerika Serikat yang menunjukkan sinyal beragam sehingga mengangkat penguatan indeks dolar.
Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah parkir di level Rp16.675 per dolar AS, terkoreksi 39 poin atau 0,23% dibandingkan penutupan Kamis (27/11) di Rp16.636 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menyampaikan bahwa penguatan dolar kembali menekan pergerakan rupiah.
"Beberapa data ekonomi AS yang tertunda yang dirilis sejauh ini menunjukkan gambaran yang beragam akan kesehatan ekonomi AS, dengan Nonfarm Payroll (NFP) bulan September yang lebih kuat dari perkiraan, Indeks Harga Produsen (PPI) inti yang lebih lemah, dan Pesanan Barang Tahan Lama yang optimis, kontras dengan Penjualan Ritel yang lebih lemah dan peningkatan Tingkat Pengangguran," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Meskipun demikian, pelaku pasar masih optimistis The Federal Reserve bakal memangkas suku bunga acuannya pada Desember 2025. Berdasarkan CME FedWatch Tool, probabilitas penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin mencapai sekitar 85%.
Selain itu, dinamika geopolitik turut membayangi pasar. Dorongan baru AS untuk mendorong perundingan damai Ukraina-Rusia kembali mengemuka. Washington dan Kyiv tengah menyusun kerangka revisi negosiasi yang dibahas di Jenewa untuk membuka jalan bagi jaminan keamanan bertahap dan pengaturan teritorial.
Presiden Rusia Vladimir Putin bahkan menyebut dokumen tersebut bisa menjadi dasar perjanjian ke depan, meski ia menegaskan belum ada draf final yang disepakati. Utusan khusus AS Steve Witkoff dijadwalkan bertolak ke Moskow pekan depan. Langkah diplomatik ini dinilai dapat menurunkan risiko suplai komoditas global, meski peluang terobosan cepat masih diragukan.
Dari dalam negeri, pemerintah berharap ekonomi kuartal IV-2025 masih bisa terdongkrak. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemindahan dana pemerintah dari Bank Indonesia (BI) ke bank-bank Himbara akan memberi dorongan tambahan pada aktivitas ekonomi.
"Kebijakan pemindahan dana ini akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,2% pada kuartal IV-2025," jelas Purbaya.
Ia menambahkan, pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi sepanjang Oktober-Desember 2025 berada pada kisaran 5,6%-5,7%, didukung stimulus seperti diskon tarif transportasi selama libur Natal dan Tahun Baru, serta penambahan bantuan langsung tunai (BLT).
Sejak September, pemerintah telah menyalurkan dana sebesar Rp200 triliun ke Himbara: Mandiri, BRI, dan BNI masing-masing Rp55 triliun, BTN Rp25 triliun, dan BSI Rp10 triliun. Terbaru, pemerintah menambah likuiditas Rp76 triliun, terdiri dari Mandiri, BNI, dan BRI masing-masing Rp25 triliun, serta Bank DKI Rp1 triliun.
"Total dana yang digelontorkan kini mencapai Rp276 triliun," ungkap Ibrahim.
Untuk perdagangan Senin (1/12), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Ibrahim memperkirakan rupiah akan bergerak di rentang Rp16.670-Rp16.710 per dolar AS.(Adhitya/AI)
Sumber : admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发