CPO Naik Tipis, Ketidakpastian Produksi Akibat Cuaca Ekstrim Topang Harga

avatar
· 阅读量 338
  • Harga CPO naik karena ketidakpastian produksi akibat cuaca ekstrem, meski terbebani turunnya ekspor dan stagnannya harga soyoil Chicago.
  • Badai tropis di Indonesia, Malaysia, dan Thailand memicu kerusakan dan gangguan produksi, sementara ekspor CPO Malaysia anjlok 19,7%.
  • Meski menguat empat sesi beruntun, harga berpotensi terkoreksi karena resistensi teknikal, dengan tren bulanan masih melemah tiga bulan beruntun.

Ipotnews - Minyak sawit mentah (CPO) berjangka Malaysia menguat untuk sesi keempat berturut-turut, Senin, didorong ketidakpastian produksi akibat hujan lebat di negara produsen utama, Indonesia dan Malaysia. Namun, lemahnya data ekspor serta stagnannya harga minyak kedelai Chicago membatasi kenaikan CPO.
Kontrak acuan minyak sawit untuk pengiriman Februari di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 5 ringgit atau 0,12% menjadi 4.119 ringgit (USD996) per ton pada jeda tengah hari, setelah sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak 21 November, demikian laporan  Reuters,  di Jakarta, Senin (1/12).
Kepala Riset Sunvin Group, Anilkumar Bagani, mengatakan harga CPO di Bursa Malaysia bergerak dua arah akibat penurunan tajam ekspor minyak sawit Malaysia serta ketidakpastian kondisi produksi.
Indonesia, Malaysia, dan Thailand mengalami kerusakan besar setelah badai tropis langka terbentuk di Selat Malaka yang memicu hujan deras dan angin kencang selama sepekan.
Tim penyelamat di ketiga negara Asia Tenggara tersebut masih berupaya mencapai banyak wilayah terdampak banjir pada Minggu, meski air mulai surut dan puluhan ribu warga telah dievakuasi.
Intertek Testing Services melaporkan ekspor produk CPO Malaysia sepanjang November anjlok 19,7% dibandingkan bulan sebelumnya.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat ekspor minyak sawit mentah dan olahan Indonesia mencapai 19,49 juta ton pada periode Januari-Oktober, melesat 7,83% secara volume dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kontrak minyak sawit Malaysia menguat 1,1% pekan lalu, tetapi melorot 2,78% sepanjang November, menandai penurunan bulanan selama tiga bulan berturut-turut.
Di bursa komoditas lainnya, kontrak minyak kedelai (soyoil) paling aktif Dalian naik 0,63 persen, sementara kontrak minyak sawitnya meningkat 0,75 persen. Harga soyoil di Chicago Board of Trade tercatat tidak berubah.
Harga CPO kerap mengikuti pergerakan minyak pesaing karena berkompetisi memperebutkan pangsa pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Indonesia menetapkan harga referensi CPO untuk Desember sebesar USD926,14 per ton, turun dari UD963,75 per ton pada November, berdasarkan regulasi Kementerian Perdagangan.
Analis teknikal Reuters, Wang Tao, memperkirakan minyak sawit berpotensi terkoreksi ke 4.084 ringgit per ton karena menghadapi resistance di level 4.157 ringgit. (Reuters/AI)

Sumber : Admin

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest