Rupiah Melemah Tipis Setelah Perundingan AS–Rusia Tanpa Hasil

avatar
· 阅读量 2,362
  • Rupiah melemah tipis ke Rp16.628 per dolar AS pada Rabu (3/12), tertekan sentimen eksternal setelah perundingan AS-Rusia terkait Ukraina gagal mencapai kesepakatan, meningkatkan kekhawatiran geopolitik.
  • Pasar menilai peluang pemangkasan suku bunga The Fed mencapai 90% pada pertemuan Desember, dengan investor menunggu rilis ADP Employment Report dan Indeks Harga PCE; spekulasi pergantian Ketua The Fed turut menambah volatilitas.
  • OECD menilai BI masih memiliki ruang menurunkan suku bunga hingga 50 bps, namun penyaluran pelonggaran belum optimal dan depresiasi rupiah 3% sejak awal tahun menjadi perhatian. Rupiah besok diperkirakan bergerak Rp16.620-Rp16.640 per dolar AS.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup melemah sangat tipis pada perdagangan Rabu (3/12), di tengah sentimen global yang kembali tertekan setelah perundingan perdamaian antara Amerika Serikat dan Rusia terkait Ukraina gagal mencapai titik temu.
Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup di level Rp16.628 per dolar AS, terkoreksi 4 poin atau 0,02% dibandingkan posisi Selasa (2/12) di level Rp16.624 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai kegagalan negosiasi kedua negara adidaya tersebut menambah kekhawatiran pasar atas stabilitas geopolitik global.
"Rusia dan AS tidak mencapai kompromi mengenai kemungkinan kesepakatan damai untuk Ukraina setelah pertemuan lima jam antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan utusan utama Presiden AS Donald Trump, menurut pernyataan pemerintah Rusia pada hari ini," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Selain itu, tuduhan Putin pada hari Selasa bahwa kekuatan-kekuatan Eropa menghalangi upaya AS untuk mengakhiri perang dengan mengajukan proposal yang mereka tahu sama sekali tidak dapat diterima oleh Moskow telah meningkatkan kekhawatiran bahwa pasokan Rusia akan terus dibatasi hanya untuk pembeli seperti Tiongkok dan India. "Karena perundingan tersebut mungkin tidak menghasilkan kesepakatan," ujar Ibrahim.
Pelemahan rupiah sangat tipis karena dari sisi makro global, pasar kini memperkirakan probabilitas pemangkasan suku bunga The Fed sebesar 90% pada pertemuan 9-10 Desember mendatang, menurut perangkat FedWatch CME. Data ekonomi AS yang melemah turut memperkuat spekulasi pelonggaran moneter.
Pelaku pasar juga menanti rilis ADP Employment Report untuk sektor swasta dan Indeks Harga PCE yang tertunda. Keduanya menjadi indikator penting bagi arah kebijakan The Fed ke depan.
Selain itu, spekulasi pergantian kepemimpinan The Fed turut memengaruhi arah rupiah. Kevin Hassett--penasihat ekonomi Gedung Putih dan figur yang dikenal pro-suku bunga rendah--disebut sebagai kandidat kuat pengganti Jerome Powell.
Dari dalam negeri, OECD menilai Bank Indonesia masih memiliki ruang untuk kembali menurunkan suku bunga kebijakan hingga 50 basis poin. Saat ini, BI rate telah bergerak turun dari 6,25% menjadi 4,75% sejak siklus pelonggaran dimulai pada Agustus 2024.
Namun, penurunan suku bunga tersebut belum efektif tersalur ke biaya kredit dan imbal hasil obligasi korporasi. Pertumbuhan kredit juga masih jauh di bawah rata-rata sebelum pandemi.
OECD menilai prospek inflasi yang stabil dan permintaan domestik yang berada pada tren wajar memberi ruang bagi pelonggaran tambahan. Meski begitu, kehati-hatian tetap diperlukan mengingat depresiasi rupiah sekitar 3% sejak awal tahun, sebagian akibat penyempitan selisih suku bunga dengan negara maju.
Ibrahim memperkirakan perdagangan rupiah pada Kamis (4/12) akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan kembali melemah.
"Besok rupiah berpotensi bergerak di rentang Rp16.620-Rp16.640 per dolar AS, seiring sentimen eksternal yang masih dominan," ungkap Ibrahim.(Adhitya/AI)

Sumber : admin

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest