Mayoritas Mata Uang Asia Diperkirakan masih Menguat hingga Kuartal I 2026

avatar
· 阅读量 474
  • HSBC memperkirakan sebagian besar mata uang Asia akan terus menguat terhadap dolar AS hingga kuartal I 2026, seiring pelemahan Indeks Dolar dan sikap The Fed yang terbuka pada pemangkasan suku bunga, serta ketidakpastian kebijakan AS.
  • Di kelompok mata uang berimbal hasil rendah, CNY dinilai paling stabil, KRW berisiko tinggi (beta tertinggi), dan SGD menjadi mata uang pendanaan.
  • Untuk mata uang berimbal hasil tinggi, HSBC menyukai INR, netral terhadap PHP, menyarankan lindung nilai untuk IDR, serta relatif berhati-hati terhadap THB.

Ipotnews - Laporan riset tim Global FX Research HSBC memperkirakan sebagian besar mata uang masih akan melanjutkan penguatan terhadap dolar AS, hingga kuartal I 2026.
Pandangan ini didasarkan pada asumsi luasnya pelemahan Indeks Dolar AS dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi tersebut seiring dengan data ekonomi AS yang melemah secara moderat, Federal Reserve yang terus "memberi sinyal terbuka" terhadap pemangkasan suku bunga lanjutan.
Pasar juga melakukan lindung nilai terhadap ketidakpastian kebijakan AS yang akan datang, tulis Dow Jones Newswires, Kamis (18/7), mengutip laporan tersebut.
Di antara mata uang dengan imbal hasil rendah, tim riset HSBC menilai yuan China (CNY) sebagai yang paling stabil, dan won Korea Selatan (KRW) sebagai mata uang dengan beta tertinggi, dan dolar Singapura (SGD) sebagai mata uang sumber pendanaan.
Sementara itu, di kelompok mata uang berimbal hasil tinggi, tim secara taktis lebih menyukai rupee India (INR) pada kuartal I 2026, dan bersikap netral terhadap peso Filipina (PHP).
Tim menilai eksposur rupiah Indonesia (IDR) sebaiknya dijaga dengan lindung nilai (hedging), dan bersikap "relatif berhati-hati" terhadap baht Thailand (THB). (DowJones Newswires)

Sumber : Admin

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest