- Yen melemah tajam ke dekat rekor terendah versus euro dan level terlemah multi-bulan terhadap dolar AS dan Aussie, dipicu sikap hati-hati Gubernur BOJ.
- Kenaikan suku bunga BOJ ke 0,75% dinilai pasar kurang hawkish; minim panduan lanjutan memicu aksi jual yen dan lonjakan imbal hasil obligasi Jepang di atas 2%.
- Peringatan intervensi pemerintah tidak efektif menahan pelemahan yen, sementara analis melihat risiko yen makin tertekan jika dolar AS menembus level kunci.
Ipotnews - Yen melempem dan bertahan di dekat level terendah sepanjang sejarah versus euro, Senin, setelah Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda kembali menyampaikan sikap hati-hati menyusul kenaikan suku bunga Jumat.
Mata uang Jepang itu juga diperdagangkan di sekitar level terendah dalam 11 bulan terhadap dolar AS, serta mendekati titik terlemah dalam 17 bulan versus dolar Australia, demikian laporan Reuters, di Tokyo, Senin (22/12).
Peringatan pemerintah Jepang mengenai potensi intervensi valuta asing, Senin, nyaris tidak memberikan dampak langsung ke pasar. Wakil Menteri Keuangan Jepang, Atsushi Mimura, menyatakan pihaknya "khawatir" terhadap pergerakan nilai tukar yang "satu arah dan tajam". Dia menegaskan otoritas akan "mengambil langkah yang tepat terhadap pergerakan yang berlebihan", meski pernyataan tersebut belum mampu menahan tekanan jual terhadap yen.
Jumat, BOJ menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 0,75%, level tertinggi dalam tiga dekade. Langkah tersebut telah diantisipasi pasar. Pernyataan kebijakan BOJ mengisyaratkan kesiapan untuk melanjutkan pengetatan moneter, namun dalam konferensi persnya, Ueda menekankan bahwa waktu dan kecepatan kenaikan suku bunga selanjutnya akan sangat bergantung pada data ekonomi yang masuk.
Minimnya sinyal bernada hawkish dari Gubernur BOJ memicu aksi jual yen secara luas, anjlok 1,3% terhadap euro, 1,4% versis dolar AS, dan 1,5% terhadap dolar Australia. Pada saat yang sama, pasar surat utang Jepang mengalami tekanan jual besar-besaran, mendorong imbal hasil obligasi tenor 10 tahun--yang bergerak berlawanan arah dengan harga--melonjak melewati level psikologis 2% dan mencapai posisi tertinggi sejak 1999.
Analis IG, Tony Sycamore, menilai meski pernyataan BOJ menyebutkan bahwa imbal hasil riil masih "sangat rendah", yang berpotensi mengindikasikan pengetatan lanjutan, konferensi pers Ueda tidak memberikan panduan baru. Menurutnya, bank sentral hanya menegaskan kembali pendekatan yang bergantung pada data ekonomi.
"Ketiadaan panduan yang lebih jelas mengenai kecepatan kenaikan suku bunga di masa depan mengecewakan pasar dan memicu aksi jual yen," tulis Sycamore dalam catatan kepada klien.
Dia menambahkan, jika dolar AS menembus level 158 yen secara meyakinkan, peluang terbuka menuju level tertinggi tahun ini di sekitar 158,87 yen.
Pada perdagangan Senin, dolar AS tercatat turun 0,1% menjadi 157,56 yen, namun masih berada dekat dengan puncak bulan lalu di 157,90 yen. Euro juga melemah 0,1% ke posisi 184,51 yen, tetap tidak jauh dari rekor tertinggi Jumat di 184,75 yen, sementara euro terhadap dolar AS stabil di USD1,1714.
Aussie sedikit melemah ke 104,20 yen, namun masih mendekati level 104,39 yen yang dicapai awal bulan ini, tertinggi sejak Juli tahun lalu. Terhadap dolar AS, mata uang Australia justru naik tipis 0,1% jadi USD0,6616.
Analis Commonwealth Bank of Australia menilai pasangan Aussie-yen masih didukung oleh sentimen risiko global yang solid serta pelebaran selisih imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun antara Australia dan Jepang. Bank tersebut memproyeksikan nilai tukar dapat menguat hingga 109 yen per dolar Australia pada Maret. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发