- Rupiah berpeluang menguat tipis seiring meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan The Fed pada 2026, yang menekan pergerakan dolar AS.
- Penguatan rupiah diperkirakan terbatas, karena masih dibayangi prospek penurunan suku bunga BI serta kekhawatiran terhadap defisit anggaran; rupiah diproyeksikan bergerak di kisaran Rp16.700-Rp16.800 per dolar AS.
- Pejabat The Fed menilai pemangkasan suku bunga diperlukan untuk menghindari risiko resesi, seiring meningkatnya tingkat pengangguran dan perlunya kebijakan moneter yang lebih longgar.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berpeluang menguat tipis hari ini, karena meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan Federal Reserve pada 2026.
Mengutip data Bloomberg pada Selasa (23/12), hingga pukul 09.14 WIB, kurs rupiah sedang diperdagangkan di level Rp16.761 per dolar AS, menguat 16 poin atau sekitar 0,10% dibandingkan penutupan Senin (22/12) di posisi Rp16.777 per dolar AS.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan bahwa rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang melemah oleh kembali meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan oleh the Fed di 2026.
"Namun penguatan akan terbatas mengingat rupiah juga masih tertekan oleh prospek pemangkasan suku bunga acuan oleh BI dan kekhawatiran mdefisit anggaran," kata Lukman saat dihubungi Ipotnews melalui pesan WhatsApp pagi ini.
"Range kurs rupiah hari ini diperkirakan di kisaran Rp16.700 - Rp16.800 per dolar AS," ujar Lukman.
Anggota Dewan Gubernur Federal Reserve, Stephen Miran mengatakan bank sentral AS berisiko memicu resesi, kecuali terus menurunkan suku bunga pada tahun depan.
"Jika kita tidak menyesuaikan kebijakan ke arah penurunan, maka saya pikir kita memang menghadapi risiko," kata Miran dalam wawancara dengan Bloomberg TV pada Senin kemarin.
Miran menambahkan bahwa dia tidak memperkirakan resesi ekonomi dalam waktu dekat, meski kenaikan tingkat pengangguran seharusnya mendorong pejabat The Fed untuk terus memangkas suku bunga.
"Tingkat pengangguran telah meningkat di atas perkiraan orang. Dan data ini seharusnya mendorong ke arah kebijakan moneter yang lebih longgar," ungkapnya.(Adhitya/AI)
Sumber : admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发