- Harga Minyak Naik
- Bursa Asia Menguat
Pasar saham Asia menguat pada awal pekan, sementara harga minyak bergejolak di tengah perhatian investor terhadap operasi militer Amerika Serikat (AS) di Venezuela. Di saat yang sama, pelaku pasar juga menanti data ekonomi yang akan dirilis sepanjang pekan pertama tahun ini.
Gejolak pasar terjadi setelah militer AS menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro. Presiden AS Donald Trump menyebut bahwa AS mengambil alih kendali Venezuela dan langsung memicu perhatian global.
Kepala Ekonom Capital Economics, Neil Shearing menilai dampak ekonomi global dari peristiwa ini kemungkinan terbatas dalam jangka pendek. Namun, ia menegaskan konsekuensi politik dan geopolitik bisa berdampak lebih luas dalam waktu ke depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Trump Mau Perusahaan AS Garap Ladang Minyak Venezuela, Untung Atau Buntung? |
Harga Minyak Naik
Di pasar energi, harga minyak Brent naik tipis 0,2% ke kisaran US$ 60,87 per barel. Investor masih menimbang dampak intervensi AS di Venezuela, bersamaan dengan keputusan OPEC+ yang memilih mempertahankan produksi minyak.
Kepala Strategi BCA Research, Marko Papic menilai kecil kemungkinan harga minyak tertekan karena Venezuela membutuhkan modal dan teknologi besar untuk memulihkan produksinya ke level optimal.
"Skenario harga minyak melemah sangat kecil kemungkinannya. Venezuela akan membutuhkan bantuan besar, baik dari sisi modal maupun rekayasa teknis, untuk mendorong produksinya mendekati kapasitas maksimal, yang sejak awal pun sebenarnya tidak terlalu mengesankan. Oleh karena itu, kami tidak berada di posisi menjual minyak dalam situasi ini dan justru melihat potensi risiko kenaikan harga," ujarnya dikutip dari Reuters, Senin (5/1/2026).
Baca juga: Trump Tangkap Presiden Venezuela Maduro, Bagaimana Nasib Harga Minyak? |
Bursa Asia Menguat
Sementara itu, bursa saham kawasan mencatatkan penguatan solid. Indeks Nikkei Jepang melonjak 2,8% mendekati level tertinggi dua bulan terakhir, didorong data yang menunjukkan aktivitas manufaktur mulai stabil setelah berbulan-bulan melemah.
Bursa Korea Selatan dan Taiwan bahkan mencetak rekor baru setelah masing-masing naik lebih dari 2%. Sebaliknya, pergerakan pasar China cenderung lebih hati-hati. Indeks Hang Seng hanya naik tipis 0,1%, tertahan oleh tekanan di saham-saham energi setelah indeks sektor energi Hong Kong turun 3,1%. Sementara itu, Bursa Australia menguat tipis 0,1%.
Managing Director OCBC Singapura, Vasu Menon mengatakan perkembangan di Venezuela membuka kembali pertanyaan soal arah kebijakan luar negeri pemerintahan Trump ke depan. Ketidakpastian geopolitik, apalagi di tengah tahun politik di AS berpotensi menjaga harga minyak tetap kuat sekaligus mendorong minat investor ke aset lindung nilai seperti logam mulia.
(ily/ara)作者:Ilyas Fadilah -,文章来源detik_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

暂无评论,立马抢沙发