IDXChannel – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih berlanjut pada awal 2026, di mana Bank Indonesia (BI) mencatat mata uang Garuda ditutup ke level Rp16.860 per USD pada penutupan Selasa (13/1/2026).
Angka ini mencerminkan depresiasi sebesar 1,04 persen secara tahun berjalan (year-to-date).
Rupiah Loyo Tujuh Hari Beruntun, Dibuka Sentuh Rp16.847 per USDKepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea menjelaskan pelemahan ini merupakan dampak dari gejolak pasar keuangan global yang dipicu oleh eskalasi ketegangan geopolitik dan ketidakpastian kebijakan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).
"Bank Indonesia konsisten menjaga stabilitas nilai tukar sehingga dapat menjaga stabilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi. Pergerakan mata uang global pada awal 2026 ini, termasuk Indonesia, banyak dipengaruhi oleh meningkatnya tekanan di pasar keuangan dunia," ujar Erwin dalam keterangan resminya, Rabu (14/1/2026).
Rupiah Melemah ke Rp16.855 di Awal Pekan, Pasar Cermati Gejolak IranMeskipun rupiah melemah, Erwin menekankan kondisi ini masih sejalan dengan tren yang terjadi pada mata uang di kawasan regional.
Sebagai perbandingan, Won Korea Selatan mencatatkan pelemahan yang lebih dalam yakni 2,46 persen, sementara Peso Filipina terkoreksi sebesar 1,04 persen.
Rupiah Ditutup Melemah ke Rp16.877 per USD, Ini Sederet SentimennyaBI meyakini kepercayaan investor global terhadap Indonesia masih sangat positif. Hal ini dibuktikan dengan masuknya aliran modal asing (neto) ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026. Selain itu, premi risiko (CDS) Indonesia tenor 5 tahun tetap bertahan di level rendah, yakni sekitar 72 bps.
作者:14/01/2026 11:10 WIB,文章来源Idxchannel,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

暂无评论,立马抢沙发