APBN 2026 Menargetkan Defisit 2,68% ... Risiko Utama Berada pada Eksekusi - Ashmore

avatar
· 阅读量 1,169

Ipotnews - Bursa saham Indonesia mengakhiri sesi perdagangan pekan ketiga Januari, Kamis (15/6) dengan mencatatkan kenaikan IHSG sebesar 0,48% ke rekor penutupan tertinggi di posisi 9.075, jauh di atas level 8.937 pada akhir pekan sebelumnya. Pada sesi tersebut, IHSG juga mencetak rekor tertinggi baru sepanjang masa di level 9.101. Investor asing mencatatkan arus masuk ekuitas sebesar USD193 juta, sepanjang pekan.
 Weekly Commentary , PT Ashmore Asset ManagementIndonesia mencatat beberapa poin penting yang terjadi sepanjang pekan, antara lain;
APBN 2026 Menargetkan Defisit 2,68% ... Risiko Utama Berada pada Eksekusi - Ashmore
Apa yang terjadi dalam sepekan terakhir?
Ashmore mencatat, kenaikan IHSG sepanjang pekan terakhir antara lain didukung oleh sektor yang berkinerja terbaik yaitu, Consumer Cyclicals dan Industrials yang masing-masing meloncat +4,75% dan +3,99%. Adapun sektor yang tertinggal adalah sektor Teknologi dan Energi, yang masing-masing merosot -1,33% dan -0,43%.
Aset dengan kinerja terbaik pekan ini adalah Bitcoin (+7,04%) dan harga gas alam (+5,57%). Sebaliknya, terjadi koreksi pada indeks Nasdaq (-0,84%) dan Dow Jones (-0,72%).
Ashmore juga mencatat, rilis data inflasi AS pekan ini tercatat sama dengan bulan sebelumnya, namun lebih tinggi dari perkiraan. Harga naik lebih cepat pada komponen makanan dan perumahan.
Inflasi inti tetap sama dibanding bulan lalu dan merupakan level terendah sejak Maret 2021. Sementara itu, penjualan ritel bulanan meningkat, didorong oleh penjualan otomotif serta kenaikan penjualan perlengkapan olahraga, alat musik, dan buku.
Di eropa, data ekonomi Jerman tumbuh moderat pada 2025, sedikit di bawah konsensus, namun kembali mencatatkan ekspansi setelah dua kuartal sebelumnya. Harga grosir melandai dan berada di bawah ekspektasi, meski masih mencatatkan kenaikan selama 13 bulan berturut-turut, terutama didorong lonjakan harga logam dan bijih.
Di Inggris, ekonomi tumbuh pada November setelah dua bulan kontraksi, dengan laju pertumbuhan bulanan yang lebih kuat dari perkiraan dan dipimpin sektor jasa. Sektor manufaktur bulanan mencatatkan kenaikan signifikan, di atas konsensus, dengan kontribusi terbesar dari peralatan transportasi.
Sementara itu di Asia, China merilis data neraca perdagangan yang menunjukkan ekspor tumbuh lebih cepat dari perkiraan dan merupakan yang terkuat sejak September, terutama ke pasar non-AS. Impor juga meningkat ke level tertinggi dalam sekitar empat tahun. Secara keseluruhan, neraca perdagangan tetap solid dan menjadi yang tertinggi sejak Juni.
"Di Indonesia, penjualan ritel pada November tumbuh lebih tinggi dari perkiraan, mencatatkan pertumbuhan tujuh bulan berturut-turut dan tercepat sejak Maret 2024, didorong oleh makanan, minuman, dan tembakau," tulis Ashmore.
Premi Risiko Global Meningkat
Pekan ini, Ashmore melihat, pasar tetap sangat sensitif terhadap arus berita utama. Data inflasi konsumen AS sesuai konsensus dan tidak mengubah ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga. "Namun, risiko tambahan muncul dari kembali mencuatnya isu independensi The Fed serta ketegangan geopolitik yang melibatkan AS," imbuh Ashmore.
Ashmore berpendapat, latar belakang makroekonomi masih mendukung narasi pelonggaran global, namun pasar khawatir jalur menuju suku bunga terminal bisa rapuh. Faktor yang memicu volatilitas antara lain isu politik terkait independensi The Fed dan ketahanan pasar tenaga kerja.
Asmore juga melihat, sejak pelantikan resmi Presiden Trump, pemerintahannya terus mendorong pemangkasan suku bunga agresif, namun hingga kini belum terwujud karena The Fed tetap independen dan berbasis data. Pemberitaan terbaru menyebutkan Departemen Kehakiman AS mengeluarkan panggilan terkait renovasi gedung The Fed, meski pasar tetap berharap The Fed beroperasi sesuai mandat dan independensinya.
"Geopolitik terus menjadi faktor penting bagi selera risiko global dan harga komoditas, sehingga premi risiko meningkat dalam lingkungan saat ini," ungkap Ashmore.
Sementara itu, Ashmore menilai, saham Indonesia menunjukkan kecenderungan yang lebih kuat ke emiten komoditas sejak awal tahun, mendorong kenaikan indeks dan menegaskan posisi unik Indonesia di ASEAN sebagai proksi komoditas. "Dana asing terus mencatatkan inflow bersih sejak September tahun lalu, seiring likuiditas dan sentimen pasar saham domestik yang membaik," Ashmore menambahkan.
Di pasar obligasi, menurut Ashmore, isu defisit fiskal yang membesar menjadi 2,92% (masih di bawah batas 3%) serta pelemahan nilai tukar yang berlanjut menimbulkan kekhawatiran investor global dan menekan imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia akibat premi risiko. Yield SBN tenor 10 tahun terkoreksi ke sekitar 6,25%, sementara yield tenor 2 tahun relatif lebih bertahan dan naik ke sekitar 5,1%.
Sementara itu, Ashmore juga mencatat, APBN 2026 menargetkan defisit 2,68% dengan ekspektasi peningkatan pendapatan dan belanja. Risiko utama berada pada eksekusi, namun komitmen pemerintah jelas untuk tetap berada di bawah batas 3%.
"Ke depan, pemerintah diperkirakan akan memantau dan melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar, sementara penerbitan obligasi kemungkinan tetap terkendali sehingga likuiditas pasar terjaga sejalan dengan kebijakan Kementerian Keuangan," papar Ashmore.
Ashmore menyebutkan, saat ini pasar obligasi menghadapi tekanan dengan yield yang berangsur naik seiring meningkatnya premi risiko. Namun, koreksi ini dapat menjadi peluang untuk akumulasi pada tenor panjang karena ruang kenaikan yield di sisi depan kurva semakin terbatas. "Masih terdapat alasan bagi yield untuk bergerak lebih rendah tahun ini seiring berlanjutnya siklus pelonggaran global," sebut Ashmore.
Sementara itu, Ashmore tetap optimistis terhadap pasar saham, khususnya pada saham-saham komoditas terpilih dan emiten berpendapatan dolar AS. "Kami menilai reksa dana saham Ashmore tetap menarik dengan pengelolaan aktif untuk mengambil posisi pada saham-saham pilihan dengan valuasi dan pertumbuhan yang mendukung." (Ashmore)
APBN 2026 Menargetkan Defisit 2,68% ... Risiko Utama Berada pada Eksekusi - Ashmore

Sumber : Admin

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest