BOJ Diperkirakan Tahan Suku Bunga, Para Trader Yen Waspadai Risiko Intervensi

avatar
· 阅读量 518
  • Bank of Japan (BOJ) hampir pasti menahan suku bunga di 0,75% meski yen terus melemah.
  • Yen mendekati level krusial 160 per dolar AS, memicu spekulasi intervensi pemerintah.
  • Sinyal kebijakan Gubernur Kazuo Ueda menjadi fokus utama pasar.

Ipotnews - Bank of Japan (BOJ) secara luas diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya pada Jumat (23 Januari), sebuah langkah yang dinilai tidak akan memberi dukungan langsung bagi yen. Kondisi ini membuat para pelaku pasar tetap siaga terhadap potensi intervensi valuta asing oleh pemerintah Jepang, bahkan bisa terjadi pada hari yang sama jika yen kembali melemah tajam.
Seluruh pengamat BOJ yang disurvei Bloomberg memperkirakan bank sentral akan menahan suku bunga di level 0,75% pada akhir rapat kebijakan dua hari. Suku bunga tersebut sebelumnya dinaikkan bulan lalu ke level tertinggi sejak 1995.
Perhatian utama pasar tertuju pada sejauh mana Gubernur BOJ Kazuo Ueda akan menyampaikan sinyal hawkish, di tengah posisi yen yang berada dekat level psikologis penting terhadap dolar AS. Hingga Selasa pagi waktu Tokyo, yen diperdagangkan di sekitar 158,20 per dolar, tidak jauh dari ambang 160 yang pada 2024 lalu memicu beberapa putaran intervensi pembelian yen oleh otoritas Jepang.
Pejabat BOJ kini semakin mencermati dampak nilai tukar terhadap inflasi. Pelemahan yen yang berlanjut dinilai bisa mempercepat langkah kenaikan suku bunga berikutnya, menurut sumber yang mengetahui pembahasan tersebut.
"BOJ kemungkinan akan memberi isyarat bahwa ambang untuk kenaikan suku bunga berikutnya tidak terlalu tinggi, demi mencegah pelemahan yen lebih lanjut," kata Naka Matsuzawa, kepala strategi Nomura Securities. "Mereka kemungkinan membuka ruang untuk bertindak paling cepat pada April."
Pada hari yang sama dengan keputusan kebijakan BOJ, Perdana Menteri Sanae Takaichi dijadwalkan membubarkan majelis rendah parlemen untuk membuka jalan bagi pemilu cepat pada 8 Februari. Spekulasi pasar bahwa Takaichi akan meraih kemenangan kuat dan menggunakannya sebagai mandat untuk memperluas belanja fiskal telah menekan yen dan obligasi pemerintah, sekaligus mendorong pasar saham ke rekor tertinggi.
Sejak awal Oktober, yen telah melemah sekitar 7% terhadap dolar AS--terburuk di antara mata uang utama yang dipantau Bloomberg. Pelemahan ini terjadi sejak Takaichi, yang dikenal mendukung stimulus fiskal dan moneter, muncul sebagai kandidat kuat perdana menteri dan kemudian resmi menjabat pada akhir bulan tersebut.
Meski BOJ menjadi satu-satunya bank sentral utama yang menaikkan suku bunga tahun lalu--sebanyak dua kali--langkah tersebut belum mampu membalikkan tren pelemahan yen. Suku bunga Jepang masih menjadi yang terendah kedua di antara ekonomi utama, hanya lebih tinggi dari Swiss.
Harga di pasar swap overnight menunjukkan pelaku pasar melihat peluang sekitar 58% bahwa kenaikan suku bunga BOJ berikutnya akan terjadi pada April, naik dari sekitar 38% pada Desember. Juli masih menjadi waktu paling populer untuk kenaikan berikutnya, meski pergerakan yen dipandang sebagai faktor X yang bisa mempercepat jadwal.
Jika pelemahan yen berlanjut, BOJ berpotensi menaikkan suku bunga hingga tiga kali tahun ini, kata Akira Hoshino, kepala pasar Citigroup Jepang.
Peringatan verbal dari otoritas juga meningkat. Menteri Keuangan Satsuki Katayama dan pejabat valuta asing tertinggi Atsushi Mimura pekan lalu mengisyaratkan kekhawatiran yang makin besar terhadap pergerakan yen.
Sorotan utama pekan ini diperkirakan tertuju pada konferensi pers Ueda. Pelaku pasar akan mencermati apakah situasinya menyerupai September 2022, ketika komentar mantan Gubernur Haruhiko Kuroda--setelah menahan kebijakan--memicu pelemahan yen lebih lanjut dan berujung pada intervensi pertama sejak 1998.
"Saya mengamati dengan cermat apakah ada petunjuk sikap hawkish atau sinyal peringatan terkait yen yang lemah," ujar Tsuyoshi Ueno, kepala ekonom NLI Research Institute.
Ueda menghadapi dilema. Dengan Takaichi cenderung mendukung pelonggaran moneter dan pemilu yang semakin dekat, Ueda kemungkinan akan menahan diri untuk tidak memberi sinyal percepatan kenaikan suku bunga, menurut Ryutaro Kono, kepala ekonom Jepang BNP Paribas. Namun, jika terlalu dovish, pelaku pasar yang bertaruh melawan yen bisa kembali menekan mata uang tersebut.
Data posisi pasar menunjukkan gambaran yang relatif berimbang. Hingga 13 Januari, dana berleverage tercatat net short yen sebesar US$8,1 miliar, sementara manajer aset net long US$2,4 miliar, berdasarkan data CFTC AS.
Amerika Serikat juga memantau perkembangan ini. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menekankan pentingnya normalisasi kebijakan dan komunikasi moneter yang solid, sebuah pesan yang juga ia sampaikan pada Oktober lalu.
Ueda telah menyatakan niat untuk melanjutkan kenaikan suku bunga dalam pidato awal tahun. Data inflasi yang akan dirilis Jumat diperkirakan menunjukkan harga telah berada di atas target 2% BOJ selama empat tahun kalender berturut-turut, memperkuat argumen bahwa inflasi benar-benar mengakar.
BOJ juga akan memperbarui proyeksi kuartalannya pekan ini. Otoritas diperkirakan menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi, seiring paket stimulus besar yang disahkan parlemen pada Desember. Namun, para ekonom tidak memperkirakan perubahan besar pada proyeksi inflasi jangka menengah, dengan target 2% tetap diproyeksikan tercapai pada paruh kedua periode proyeksi hingga Maret 2028.
Selain paket stimulus, Takaichi juga menyusun anggaran fiskal 2026 terbesar sepanjang sejarah, memanfaatkan penerimaan pajak yang meningkat akibat inflasi. Ia juga berencana memangkas sementara pajak penjualan atas makanan sebagai janji kampanye, langkah yang memicu lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai tenor dan berpotensi menekan inflasi.
Mantan anggota dewan BOJ Makoto Sakurai menilai kebijakan fiskal Takaichi terlalu ekspansif bagi ekonomi yang sudah dilanda inflasi dan berisiko mendorong kenaikan biaya hidup melalui pelemahan mata uang.
Peran yen dalam penentuan kebijakan moneter Jepang selama ini kerap tidak diucapkan secara terbuka. Namun, menurut Daisuke Karakama dari Mizuho Bank, kondisi saat ini menimbulkan "rasa waswas yang serius" karena pemerintah juga harus mempertahankan nilai mata uang.
"Pilihan akhirnya hanya dua rasa sakit: suku bunga yang lebih tinggi atau yen yang lebih lemah," kata Karakama. "Karena salah satunya harus ditanggung, keputusan akhir kemungkinan akan berada di tangan politisi, bukan bank sentral."(Bloomberg)

Sumber : admin

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest