- Minyak bergerak terbatas, Brent turun jadi USD64, WTI naik ke USD59, menunggu katalis baru.
- Sentimen geopolitik & risk-off menahan kenaikan, meski dolar melemah.
- Data China kuat dukung prospek permintaan.
Ipotnews - Harga minyak bergerak terbatas, Selasa, karena pasar mencermati ancaman Presiden AS Donald Trump untuk menaikkan tarif impor ke negara-negara Eropa terkait keinginannya membeli Greenland.
Sementara itu, pelemahan dolar AS dan data ekonomi China yang lebih baik dari perkiraan menahan pergerakan harga dalam kisaran terbatas.
Minyak mentah berjangka Brent untuk kontrak pengiriman Maret, patokan internasional, bergerak naik-turun, sempat melesat di awal sesi, tetapi pada pukul 14.40 WIB melorot 16 sen atau 0,3% menjadi USD63,78 per barel, demikian laporan Reuters, di Singapura, Selasa (20/1).
Di sisi lain, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Februari, yang berakhir Selasa, naik 14 sen atau 0,2% menjadi USD59,58 per barel. Kontrak WTI Maret yang lebih aktif menyusut 22 sen atau 0,4% jadi USD59,12 per barel. Tak ada setelmen untuk kontrak WTI pada sesi Senin karena libur Martin Luther King Jr. Day di Amerika.
"Depresiasi dolar AS memberikan dukungan bagi minyak dan komoditas secara luas," kata analis ING. Dolar yang lebih lemah membuat kontrak minyak yang dinominalkan dalam greenback menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain.
Harga minyak relatif bertahan meski pasar sedang mengalami pergerakan risk-off, tutur ING, menambahkan bahwa hal ini terkait dengan munculnya kembali ketegangan perdagangan antara Amerika dan Eropa akibat tuntutan Trump atas Greenland.
Akhir pekan lalu, kekhawatiran perang dagang kembali mengemuka setelah Trump mengatakan akan mengenakan tarif tambahan 10% mulai 1 Februari pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris. Tarif tersebut akan naik menjadi 25% pada 1 Juni jika tidak tercapai kesepakatan soal Greenland.
Dukungan Data China
Pasar minyak juga mendapat sedikit dukungan dari data Produk Domestik Bruto (PDB) China kuartal keempat 2025 yang lebih baik dari perkiraan, ungkap analis IG Market, Tony Sycamore.
"Ketahanan ekonomi negara importir minyak terbesar di dunia itu meningkatkan sentimen permintaan," ujarnya.
Data menunjukkan ekonomi China tumbuh 5,0% tahun lalu, memenuhi target pemerintah terutama melalui pangsa global yang meningkat untuk barang-barang buatan China, mengimbangi lemahnya konsumsi domestik. Strategi ini meredam dampak tarif AS, namun semakin sulit dipertahankan.
Selain itu, pengolahan minyak di kilang dan produksi minyak mentah China sepanjang 2025 melonjak masing-masing 4,1% dan 1,5%, mencapai rekor tertinggi.
Pasar juga memantau sektor minyak Venezuela setelah Trump menyatakan AS akan mengelola industri tersebut pasca penangkapan Presiden Nicols Maduro.
Beberapa sumber perdagangan mengatakan perusahaan Vitol menawarkan minyak Venezuela kepada pembeli China dengan diskon sekitar USD5 per barel dibandingkan harga Brent ICE untuk pengiriman April. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发