Nilai Tukar Rupiah Tertekan Dalam, Gubernur Perry Optimistis Bakal Menguat Lagi

avatar
· 阅读量 1,388

Ipotnews - Nilai tukar rupiah kembali menghadapi tekanan signifikan di awal 2026. Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, pada 20 Januari 2026 rupiah berada di level Rp16.945 per dolar AS atau melemah 1,53 persen dibandingkan posisi akhir Desember 2025.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah disebabkan oleh banyak faktor baik faktor eksternal maupun domestik. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global yang mendorong aliran keluar modal asing, serta tingginya kebutuhan valas dari perbankan dan korporasi domestik.
"Awal tahun ini terjadi net outflow sebesar 1,6 miliar dolar hingga 19 Januari 2026. Perkembangan nilai tukar dipengaruhi faktor global seperti kondisi geopolitik, kebijakan tarif Trump, dan kenaikan US Treasury yield, serta faktor domestik berupa kebutuhan valas korporasi," ujar Perry dalam konferensi pers secara virtual, Rabu (21/1).
Untuk meredam tekanan tersebut, BI memperkuat langkah stabilisasi melalui intervensi di berbagai instrumen. Intervensi dilakukan di pasar Non-Deliverable Forward (NDF) luar negeri, transaksi spot, serta Domestic Non-Deliverable Forward ( DNDF ) di pasar domestik.
Selain itu, BI juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder sebagai bagian dari strategi menjaga likuiditas dan stabilitas pasar. Hal itu tercermin dari penurunan instrumen moneter SRBI dari Rp916,97 triliun pada awal tahun 2025 menjadi Rp730,90 triliun pada akhir tahun 2025, serta berlanjut turun menjadi Rp694,04 triliun pada 20 Januari 2026.
BI juga membeli SBN (Surat Berharga Negara) hingga 20 Januari 2026 mencapai Rp23,69 triliun, termasuk pembelian di pasar sekunder sebesar Rp13,21 triliun. Pembelian SBN di pasar sekunder dilakukan sesuai mekanisme pasar, terukur, transparan, dan konsisten dengan program moneter dalam menjaga stabilitas perekonomian sehingga dapat terus menjaga kredibilitas kebijakan moneter.
"Langkah stabilisasi (rupiah) tersebut didukung oleh kecukupan cadangan devisa yang lebih dari cukup," kata Perry.
Perry optimistis rupiah akan kembali stabil dan cenderung menguat. Optimisme ini didasarkan pada kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai tetap solid, imbal hasil aset domestik yang menarik, inflasi yang rendah, serta prospek pertumbuhan ekonomi yang positif.
"Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya ke arah penguatan," ulasnya.(Marjudin/ AI)

Sumber : idx.co.id

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest