HOUSTON, investor.id -Harga minyak mentah dunia ditutup menguat tipis pada Rabu (21/1/2026). Penguatan itu didorong optimisme pasar terhadap pasokan yang lebih ketat setelah gangguan sementara produksi di ladang-ladang besar di Kazakhstan serta rendahnya volume ekspor minyak Venezuela.
Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent naik US$ 0,32 (0,5%) menjadi US$ 65,24 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) naik US$ 0,26 (0,4%) menjadi US$ 60,62 per barel pada penutupan perdagangan.
Kenaikan harga minyak ini dipicu oleh keputusan operator ladang minyak besar di Kazakhstan, Tengizchevroil (TCO), yang menyatakan force majeure atas pengiriman minyak melalui sistem pipa Caspian Pipeline Consortium (CPC), akibat gangguan distribusi listrik di dua ladang utama, Tengiz dan Korolev.
Sumber industri mengatakan bahwa produksi di kedua ladang tersebut dapat tetap berhenti selama tujuh hingga 10 hari lagi, yang menimbulkan kekhawatiran potensi berkurangnya pasokan di pasar global.
Selain itu, ladang minyak Kashagan di Kazakhstan dialihkan untuk memenuhi kebutuhan domestik setelah terminal CPC di Laut Hitam mengalami kerusakan akibat serangan drone.
Di sisi lain, volume ekspor minyak Venezuela tetap rendah. Di bawah kesepakatan pasokan senilai US$ 2 miliar dengan AS, total ekspor tercatat sekitar 7,8 juta barel, menunjukkan lambatnya pemulihan output Venezuela setelah pemotongan produksi sebelumnya.
Laporan Inventaris
Survei awal Reuters menunjukkan bahwa persediaan minyak mentah dan bensin AS diperkirakan meningkat sekitar 1,7 juta barel, sementara persediaan destilat kemungkinan menurun. Hal ini menjadi salah satu elemen yang diamati pasar untuk menentukan kecenderungan harga dalam beberapa hari ke depan.
Selain itu, International Energy Agency (IEA) merevisi naik proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global tahun 2026 dalam laporan bulanan terbarunya, yang dapat menyiratkan surplus pasokan yang lebih sempit tahun ini.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, mengatakan bahwa meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk potensi tarif perdagangan AS yang bisa memperlambat pertumbuhan ekonomi global, turut menciptakan sentimen risiko di pasar minyak.
Laporan mingguan data persediaan oleh American Petroleum Institute (API) dan data resmi pemerintah AS akan dirilis dalam dua hari mendatang, setelah ditunda karena libur federal AS, yang diperkirakan akan menjadi sinyal penting bagi pergerakan harga selanjutnya.
Sumber : investor.id
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发