Rupiah Stabil dengan Bias Melemah, BI Perkuat Stabilisasi di Tengah Tekanan Global, Tunggu PDB dan PCE AS

avatar
· 阅读量 607
  • Rupiah di sekitar 16.898, melemah 0,13%, bertahan dekat area 16.900.
  • Tekanan nilai tukar berlanjut, rupiah masih dekat batas atas 52-mingguan.
  • BI aktif menstabilkan pasar dan menahan suku bunga, sementara fokus global tertuju pada The Fed dan data PDB serta PCE AS.

Rupiah pada perdagangan Kamis bergerak relatif stabil dengan bias melemah terbatas, di tengah stabilisasi Bank Indonesia dan kehati-hatian pasar global. USD/IDR diperdagangkan di sekitar 16.898,9, melemah 0,13% atau naik sekitar 21 poin, dengan pergerakan harian di kisaran 16.886,5-16.911,3, bertahan dekat area psikologis 16.900.

Dalam pandangan yang lebih luas, rupiah masih berada dekat batas atas rentang 52-mingguan 16.085-16.988. Secara kinerja waktu, rupiah melemah 0,09% mingguan, 3,62% dalam enam bulan, dan terdepresiasi sekitar 3,81% secara tahunan, menandakan tekanan nilai tukar masih dominan meski volatilitas jangka pendek relatif terkelola.

BI Perkuat Stabilisasi Rupiah di Tengah Tekanan Sentimen dan Penahanan Suku Bunga

Di tengah tekanan yang sempat menguji area Rp17.000 per dolar AS, Bank Indonesia memperkuat stabilisasi nilai tukar melalui intervensi terpadu di pasar spot dan non-delivery forward, baik domestik maupun offshore. BI menegaskan langkah ini sejalan dengan sasaran inflasi 2026 dan bertujuan menjaga pergerakan rupiah tetap konsisten dengan fundamental.

Tekanan terhadap rupiah dipicu oleh meningkatnya kehati-hatian pasar menyusul kekhawatiran atas independensi Bank Indonesia, yang mendorong pelaku pasar menilai ulang kredibilitas kebijakan moneter ke depan. Tekanan tersebut diperkuat oleh kondisi neraca eksternal yang masih ketat dan dinamika global yang belum sepenuhnya kondusif, meski membaiknya sentimen risiko global memberi ruang terbatas bagi rupiah untuk menahan pelemahan lanjutan.

Dari sisi kebijakan, Bank Indonesia (BI) pada Rabu mempertahankan suku bunga acuannya, sejalan dengan ekspektasi pasar, seraya menilai kebijakan tersebut tetap mendukung pertumbuhan ekonomi dan stabilitas rupiah yang sempat mencetak rekor terlemah pada Selasa. BI menahan 7-day reverse repo rate di 4,75%, serta membiarkan suku bunga fasilitas simpanan dan pinjaman masing-masing di 3,75% dan 5,50%, setelah memangkas suku bunga total 150 basis poin sejak September 2024.

The Fed Diprakirakan Tahan Suku Bunga, Geopolitik AS-Eropa dan Data Ekonomi Jadi Fokus Pasar

Sementara itu dari Amerika Serikat, jajak pendapat Reuters menunjukkan konsensus penuh bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga acuannya pada pertemuan 27-28 Januari di kisaran 3,50%-3,75%. Sebanyak 58% responden menilai tidak akan ada perubahan suku bunga sepanjang kuartal pertama, seiring pertumbuhan ekonomi AS yang dinilai masih kuat dan inflasi yang bertahan di atas target, meski mayoritas ekonom tetap memprakirakan pemangkasan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.

Sentimen global juga dipengaruhi dinamika geopolitik, setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menarik kembali rencana tarif terhadap barang-barang Eropa terkait isu Greenland, serta menyebut adanya “kerangka kerja” antara AS dan NATO mengenai pengaturan masa depan wilayah tersebut. Dalam pidatonya di Davos, Trump mengkritik arah kebijakan Eropa, menegaskan minat AS pada energi nuklir, serta kembali menyoroti nilai strategis Greenland bagi keamanan nasional dan NATO, meski menegaskan tidak akan menggunakan kekerasan.

Ke depan, pelaku pasar mengalihkan perhatian ke rangkaian data ekonomi AS, termasuk Klaim Tunjangan Pengangguran awal mingguan, pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) tahunan, serta inflasi Belanja Konsumsi Pribadi (Personal Consumption Expenditure/PCE), yang dipandang penting untuk memperjelas arah kondisi ekonomi dan prospek kebijakan moneter Amerika Serikat.

Indikator Ekonomi

Indeks Harga Produk Domestik Bruto

Indeks Harga Produk Domestik Bruto (PDB), yang dirilis setiap triwulan oleh Biro Analisis Ekonomi, mengukur perubahan harga barang dan jasa yang diproduksi di Amerika Serikat. Harga yang dibayarkan warga Amerika untuk impor tidak disertakan. Perubahan indeks harga PDB diikuti sebagai indikator tekanan inflasi, yang dapat mengantisipasi suku bunga yang lebih tinggi. Angka yang tinggi dianggap sebagai bullish bagi Dolar AS (USD), sedangkan angka yang rendah dianggap sebagai bearish.

Baca lebih lanjut

Rilis berikutnya Kam Jan 22, 2026 13.30

Frekuensi: Kuartalan

Konsensus: 3.7%

Sebelumnya: 3.7%

Sumber: US Bureau of Economic Analysis


Bagikan: Pasokan berita

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest