- Rupiah menguat 0,24% ke Rp16.896/USD seiring melemahnya dolar AS setelah Presiden AS Donald Trump menarik ancaman tarif terhadap Eropa dan meredakan ketegangan geopolitik, termasuk soal Greenland.
- Sentimen global membaik, didukung pernyataan Trump di WEF Davos yang tidak lagi menyinggung tarif dan aksi militer, meski pasar tetap waspada karena potensi tensi AS-Eropa masih ada.
- Dari dalam negeri, rupiah terbantu optimisme pengetatan pengawasan under invoicing ekspor-impor yang dinilai bisa memperbaiki penerimaan negara dan menekan defisit APBN , termasuk melalui pemanfaatan teknologi AI.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada sore ini, seiring meredanya ketegangan global setelah Presiden Donald Trump menyatakan mundur dari ancaman penerapan tarif terhadap negara-negara Eropa.
Mengutip data Bloomberg, Kamis (22/1) pukul 15.00 WIB, kurs rupiah ditutup di level Rp16.896 per dolar AS, menguat 39 poin atau 0,24% dibandingkan posisi penutupan Rabu (21/1) di level Rp16.935 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah ditopang oleh pelemahan indeks dolar AS yang dipicu sentimen eksternal, khususnya sikap Trump yang mulai melunak dalam isu geopolitik dan perdagangan.
"Presiden AS Donald Trump mundur dari ancaman tarif Eropa dan mengumumkan kerangka kesepakatan terkait Greenland. Trump juga mengatakan bahwa penggunaan kekuatan militer tidak akan dilakukan," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Trump tidak lagi menyinggung soal tarif maupun penggunaan kekuatan militer terhadap Greenland. Meski demikian, ia tetap memberi sinyal bahwa tekanan dapat kembali muncul jika tidak tercapai kesepakatan.
Bloomberg melaporkan bahwa Trump menyatakan akan menahan rencana pemberlakuan tarif terhadap negara-negara Eropa yang menentang upaya AS terkait Greenland. Ia juga menyebut bahwa Amerika Serikat dan
NATO
telah "membentuk kerangka kesepakatan masa depan" terkait wilayah tersebut, meskipun belum merinci isi kesepakatan itu.Meski demikian, kehati-hatian pasar masih tinggi. Menteri Keuangan Jerman, Lars Klingbeil, bahkan memperingatkan agar pasar tidak terlalu cepat optimistis setelah Trump menarik kembali ancaman tarif tersebut. Menurutnya, ketegangan antara Amerika Serikat dan Uni Eropa masih berpotensi muncul kembali.
Dari sisi data ekonomi global, pasar kini menanti rilis sejumlah indikator penting Amerika Serikat, seperti Produk Domestik Bruto (PDB), klaim pengangguran awal, serta inflasi pilihan bank sentral AS, yakni Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE).
Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menilai sentimen terhadap rupiah juga terbantu oleh optimisme pasar terhadap upaya pemerintah memberantas praktik under invoicing ekspor-impor.
"Andai saja mampu menggaet 30% dari kerugian akibat under invoicing ekspor, pemerintah mampu menutup defisit anggaran negara. Under invoicing ekspor turut menjadi penyebab shortfall penerimaan negara. Hal ini diyakini terjadi shortfall penerimaan negara pada tahun lalu yang didorong salah satunya oleh under invoicing ekspor," ujar Ibrahim.
Ia menambahkan, praktik under invoicing selama ini menjadi salah satu penyebab shortfall penerimaan negara dan turut menekan stabilitas fiskal. Isu ini kembali mencuat setelah defisit APBN 2025 mendekati 3% dari PDB.
Masalah under invoicing ini sudah lama terjadi walaupun baru ramai sekarang. Pemerintah melalui Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sudah menegaskan akan memperketat pengawasan, termasuk menggunakan artificial intelligence.(Adhitya/AI)
Sumber : admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发