Rupiah Menguat di Bawah 16.800, Pasar Menahan Langkah Jelang Data AS

avatar
· 阅读量 568
  • USD/IDR turun ke sekitar 16.769, rupiah menguat 0,16%, menjauh dari puncak awal Januari di dekat 17.000.
  • Likuiditas domestik menguat, M2 Desember tumbuh 9,6% YoY, naik dari 8,3%.
  • Fokus pasar beralih ke data pesanan barang tahan lama AS malam ini sebagai penentu arah dolar berikutnya.

Pada perdagangan Senin, rupiah mencatat penguatan terbatas terhadap dolar AS, dengan pasangan mata uang USD/IDR bergerak turun ke area 16.769. Pergerakan ini mencerminkan fase penyesuaian setelah tekanan kuat di awal Januari, sekaligus menandai upaya rupiah untuk keluar dari bayang-bayang level psikologis 17.000. Dinamika pasar terlihat relatif tenang, dengan pelaku pasar memilih menahan eksposur sambil menanti katalis eksternal berikutnya.

Dari sisi domestik, dukungan datang dari data likuiditas. Pada hari Jumat, Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan uang beredar luas (M2) secara tahunan pada Desember mencapai 9,6%, meningkat signifikan dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 8,3%. Akselerasi ini mengindikasikan likuiditas sistem keuangan kembali meluas, seiring pertumbuhan kredit dan peningkatan uang kuasi. Meski memberi bantalan bagi stabilitas rupiah, pasar tetap menakar implikasinya terhadap inflasi dan keseimbangan eksternal dalam jangka menengah.

Sementara itu, sentimen global cenderung seimbang. Data AS yang dirilis Jumat lalu menunjukkan aktivitas ekonomi masih berada di zona ekspansi. PMI S&P Global pendahuluan Januari memperlihatkan PMI Gabungan naik tipis ke 52,8, dengan sektor jasa sedikit melunak ke 52,5 dan manufaktur bertahan di 51,9. Di saat yang sama, survei University of Michigan menunjukkan sentimen konsumen membaik, diiringi turunnya ekspektasi inflasi satu dan lima tahun, menandakan tekanan harga mulai mereda secara bertahap.

Ke depan, perhatian pasar tertuju pada rilis pesanan barang tahan lama AS malam ini, khususnya komponen barang modal non-pertahanan di luar pesawat sebagai indikator belanja investasi korporasi. Hasil data tersebut akan menjadi penentu apakah dolar kembali mendapatkan dorongan atau justru memberi ruang tambahan bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah, untuk mempertahankan penguatan yang masih bersifat terukur.

Pertanyaan Umum Seputar Dolar AS

Dolar AS (USD) adalah mata uang resmi Amerika Serikat, dan mata uang 'de facto' di sejumlah besar negara lain tempat mata uang ini beredar bersama mata uang lokal. Dolar AS adalah mata uang yang paling banyak diperdagangkan di dunia, mencakup lebih dari 88% dari seluruh perputaran valuta asing global, atau rata-rata $6,6 triliun dalam transaksi per hari, menurut data dari tahun 2022. Setelah perang dunia kedua, USD mengambil alih posisi Pound Sterling Inggris sebagai mata uang cadangan dunia. Selama sebagian besar sejarahnya, Dolar AS didukung oleh Emas, hingga Perjanjian Bretton Woods pada tahun 1971 ketika Standar Emas menghilang.

Faktor tunggal terpenting yang memengaruhi nilai Dolar AS adalah kebijakan moneter, yang dibentuk oleh Federal Reserve (The Fed). The Fed memiliki dua mandat: mencapai stabilitas harga (mengendalikan inflasi) dan mendorong lapangan kerja penuh. Alat utamanya untuk mencapai kedua tujuan ini adalah dengan menyesuaikan suku bunga. Ketika harga naik terlalu cepat dan inflasi berada di atas target The Fed sebesar 2%, The Fed akan menaikkan suku bunga, yang membantu nilai USD. Ketika inflasi turun di bawah 2% atau Tingkat Pengangguran terlalu tinggi, The Fed akan menurunkan suku bunga, yang membebani Greenback.

Dalam situasi ekstrem, Federal Reserve juga dapat mencetak lebih banyak Dolar dan memberlakukan pelonggaran kuantitatif (QE). QE adalah proses di mana Fed secara substansial meningkatkan aliran kredit dalam sistem keuangan yang macet. Ini adalah langkah kebijakan nonstandar yang digunakan ketika kredit telah mengering karena bank tidak akan saling meminjamkan (karena takut gagal bayar oleh rekanan). Ini adalah pilihan terakhir ketika hanya menurunkan suku bunga tidak mungkin mencapai hasil yang diinginkan. Itu adalah senjata pilihan The Fed untuk memerangi krisis kredit yang terjadi selama Krisis Keuangan Besar pada tahun 2008. Hal ini melibatkan The Fed yang mencetak lebih banyak Dolar dan menggunakannya untuk membeli obligasi pemerintah AS terutama dari lembaga keuangan. QE biasanya menyebabkan Dolar AS melemah.

Pengetatan kuantitatif (QT) adalah proses sebaliknya di mana Federal Reserve berhenti membeli obligasi dari lembaga keuangan dan tidak menginvestasikan kembali pokok dari obligasi yang dimilikinya yang jatuh tempo dalam pembelian baru. Hal ini biasanya positif bagi Dolar AS.

Bagikan: Pasokan berita

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest