- Dolar AS menguat terhadap euro dan yen setelah the Fed menahan suku bunga tanpa sinyal jelas pelonggaran.
- Euro turun ke sekitar USD1,19, yen melemah ke 153,9 per dolar, sementara Indeks DXY naik 0,8%.
- Arah suku bunga AS masih bergantung data, dengan peluang pemangkasan diperkirakan baru pada paruh kedua tahun ini.
Ipotnews - Dolar AS mempertahankan penguata terhadap euro dan yen, Rabu, setelah Federal Reserve memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan, mengutip inflasi yang masih berada pada level tinggi, meski pertumbuhan ekonomi tetap solid, serta tidak memberikan sinyal jelas mengenai waktu pelonggaran berikutnya.
Euro melorot 1% versus dolar ke posisi USD1,19163, sementara greenback melonjak 1,1% terhadap yen jadi 153,90 yen, demikian laporan Reuters, di New York, Rabu (28/1) atau Kamis (29/1) pagi WIB.
Indeks Dolar (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, naik 0,8% menjadi 96,667.
Sebelumnya, indeks tersebut sempat tertekan hingga 95,86 pada Selasa, level terendah sejak Februari 2022, setelah Presiden AS Donald Trump meremehkan pelemahan dolar bulan ini, yang memicu aksi jual lanjutan oleh pelaku pasar.
"The Fed tidak melakukan apa pun, dan melakukannya dengan penuh keyakinan," ujar Kepala Strategi Pasar Corpay di Toronto, Karl Schamotta.
Dia menilai keputusan dengan suara 10-2 serta penilaian yang sedikit lebih positif terhadap kondisi pasar tenaga kerja menunjukkan keinginan the Fed untuk tetap bersikap menunggu.
Pernyataan Komite Pasar Terbuka Federal ( FOMC ) juga tidak memberikan petunjuk kapan penurunan suku bunga selanjutnya akan dilakukan. The Fed menegaskan bahwa "besaran dan waktu penyesuaian lanjutan" akan bergantung pada data ekonomi yang masuk serta prospek perekonomian.
"Apa yang disambut baik oleh pasar adalah tidak adanya tanda-tanda tunduk pada tekanan Trump dari inti komite. Mereka tetap berdiri teguh," kata analis Ballinger Group di London, Kyle Chapman.
Menurutnya, peluang arah suku bunga tahun ini masih terbuka, namun pemangkasan kemungkinan baru dilakukan paling cepat pada musim panas, mengingat ekonomi yang solid, pasar saham yang menguat, serta inflasi yang masih bertahan di kisaran 2,5-3,0%.
Dolar juga sempat menguat di awal sesi setelah Menteri Keuangan Scott Bessent menegaskan kembali komitmen Amerika Serikat terhadap kebijakan mata uang yang kuat. Bessent menyatakan kebijakan tersebut ditempuh melalui penguatan fundamental ekonomi, sekaligus membantah adanya intervensi Amerika di pasar valuta asing untuk menopang yen Jepang.
Secara year-to-date, Indeks DXY masih merosot hampir 2%, setelah anjlok 9,4% sepanjang tahun lalu. Trump pada Selasa menyebut nilai dolar "bagus" ketika ditanya apakah mata uang AS tersebut telah melemah terlalu jauh, pernyataan yang ditafsirkan pelaku pasar sebagai sinyal untuk melanjutkan aksi jual dolar menjelang keputusan the Fed.
"Pemantulan dolar cukup logis, mengingat Bessent dengan tegas menepis anggapan bahwa pemerintahan Trump menginginkan dolar yang lebih lemah, sekaligus menutup spekulasi bahwa Departemen Keuangan berupaya menopang yen," kata analis Pepperstone di London, Michael Brown.
Tekanan terhadap dolar dalam beberapa waktu terakhir dipicu oleh ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed, ketidakpastian tarif, volatilitas kebijakan termasuk ancaman terhadap independensi bank sentral, serta meningkatnya defisit fiskal, yang menggerus kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi Amerika.
Selasa, euro sempat menembus level USD1,20 untuk pertama kalinya sejak 2021, poundsterling menyentuh posisi tertinggi dalam 4,5 tahun, sementara yen mencatatkan kinerja bulanan terkuat terhadap dolar sejak April, didukung spekulasi potensi intervensi bersama otoritas Jepang dan AS.
Keperkasaan Euro
Melemahnya dolar belakangan ini memberi sedikit kelegaan bagi otoritas Jepang, namun justru memunculkan kekhawatiran di Eropa. Dua pejabat Bank Sentral Eropa (ECB), Rabu, menyatakan penguatan euro dapat memengaruhi kebijakan moneter.
Gubernur Bank Sentral Austria, Martin Kocher, mengatakan kepada Financial Times bahwa ECB mungkin perlu mempertimbangkan kembali pemangkasan suku bunga jika penguatan euro mulai berdampak pada prospek inflasi.
Sementara itu, Gubernur Bank Sentral Prancis Franois Villeroy de Galhau menulis di LinkedIn bahwa para pembuat kebijakan "terus memantau penguatan euro dan potensi dampaknya terhadap penurunan inflasi."
Euro terakhir tercatat melorot 1,1% menjadi USD1,1907, meski masih tidak jauh dari puncak USD1,2084 yang dicapai pada sesi sebelumnya, level tertinggi sejak Juni 2021. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发