Pemerintah perlu turun tangan membenahi Bursa Efek Indonesia (BEI). Intervensi ini menyusul desakan transparansi MSCI terkait free float dan pemangkasan peringkat pasar saham Indonesia oleh Goldman Sachs beberapa waktu lalu.
Ekonom Center of Economic and Law Studies atau CELIOS, Nailul Huda, mengatakan intervensi pemerintah dapat dilakukan melalui pengetatan pengawasan regulasi pasar modal. Karena menurutnya, masih banyak anomali pergerakan harga saham.
"intervensi pemerintah bukan "menaikkan" harga saham, namun menurunkan risiko dari investasi pasar saham kita. Dengan cara apa? Dengan cara memperbaiki pengawasan di sisi regulasi. Masa ada perusahaan yang nilai sahamnya naik hingga 5.000%, tidak ada perhatian khusus, siapa yang bermain dan sebagainya. Anomali-nya sangat terlihat," ujar Nailul kepada detikcom, Kamis (29/1/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nailul menegaskan, perbaikan regulasi wajib dilakukan pemerintah untuk menghindari keruntuhan IHSG di kemudian hari. Adapun saat ini, IHSG terpantau mulai pulih kendati masih terkoreksi 1,06%.
"Mungkin kejadian sekarang sudah mereda dengan harga IHSG yang kembali naik, tapi tidak menutup kemungkinan IHSG bisa terperosok lagi. Fundamentalnya yang harus diperbaiki, bukan perbaikan nilai saham sesaat saja," imbuhnya.
Senada, Head of Retail Research MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, menjelaskan pemerintah dan otoritas pasar modal memiliki banyak pekerjaan rumah (PR) untuk kembali memulihkan IHSG dan kepercayaan investor asing maupun domestik. Perbaikan utamanya mencakup pengumuman dari MSCI.
"Memang ada 'PR' untuk memulihkan kepercayaan investor, baik asing ataupun domestik. Ya kalau kita cermati apa yang disampaikan oleh pengumuman MSCI kemarin, perihal transparansi," jelasnya.
Menurutnya, ada sejumlah risiko jika perbaikan tidak segera dilakukan sesuai batas waktu yang ditetapkan MSCI. Ia memperkirakan akan terjadi aksi jual di pasar modal hingga melemahnya nilai tukar rupiah jika IHSG masuk dalam kategori frontier market.
"Pelemahan mata uang Rupiah akan menjadi risiko selanjutnya dan akan berimbas juga ke sektor riil dari sisi kehilangan kepercayaan untuk berinvestasi di Indonesia," terangnya.
Baca juga: Bursa RI Terancam Turun Kasta Selevel Bangladesh cs, Dana Rp 835 T Bisa Kabur |
Sementara itu, analis Pasar Modal Reydi Octa mengatakan pemerintah perlu melakukan komunikasi dengan regulator dan self-regulation organization (SRO) untuk menegaskan stabilitas dan kebijakan ekonomi.
Namun, pemerintah tidak perlu melakukan intervensi langsung agar tidak menimbulkan sentimen negatif.
"Yang lebih penting adalah komunikasi dari regulator dan otoritas bursa, untuk menegaskan stabilitas ekonomi, kesinambungan kebijakan, serta komitmen perbaikan sesuai catatan MSCI," tegasnya.
(ahi/hns)作者:Andi Hidayat -,文章来源detik_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

暂无评论,立马抢沙发