- Harga minyak melonjak lebih dari 3%, Brent dan WTI cetak level tertinggi lima bulan.
- Dipicu tensi Iran-AS, pasar khawatir gangguan pasokan, termasuk risiko Selat Hormuz.
- Sentimen ditahan faktor lain, potensi pasokan Rusia & Amerika serta dolar AS yang melemah.
Ipotnews - Harga minyak melejit sekitar 3% ke level tertinggi dalam lima bulan, Kamis, didorong kekhawatiran pasar bahwa pasokan global dapat terganggu jika Amerika melancarkan serangan terhadap Iran, salah satu produsen minyak terbesar OPEC .
Minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melambung USD2,31 atau 3,4% menjadi USD70,71 per barel, demikian laporan Reuters, di New York, Kamis (29/1) atau Jumat (30/1) pagi WIB.
Sementara, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI), melonjak USD2,21 atau 3,5% ke posisi USD65,42 per barel.
Kenaikan tersebut mendorong kedua kontrak acuan minyak masuk ke wilayah overbought secara teknikal, dengan Brent mencatatkan penutupan tertinggi sejak 31 Juli dan WTI tertinggi sejak 26 September.
Kekhawatiran geopolitik meningkat setelah sejumlah sumber menyebut Presiden AS Donald Trump tengah mempertimbangkan berbagai opsi atas Iran, termasuk kemungkinan serangan terbatas terhadap aparat keamanan dan para pemimpin negara tersebut guna memicu gelombang protes. Namun, pejabat Israel dan negara-negara Arab menilai kekuatan udara saja tidak cukup untuk menggulingkan pemerintahan ulama di Teheran.
Di dalam negeri Iran, aparat keamanan berpakaian sipil dilaporkan melakukan penangkapan massal terhadap ribuan orang dalam upaya menekan protes lanjutan.
Dua sumber AS menyebut Trump ingin menciptakan kondisi menuju "pergantian rezim" setelah aksi penindakan keras terhadap demonstrasi nasional awal bulan ini yang menewaskan ribuan orang.
"Kekhawatiran utama pasar saat ini adalah dampak lanjutan jika Iran menyerang negara-negara tetangganya atau, yang lebih krusial, menutup Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari," ujar analis PVM John Evans.
Berdasarkan data US Energy Information Administration (EIA), Iran merupakan produsen minyak mentah terbesar ketiga di tubuh OPEC pada 2025, setelah Arab Saudi dan Irak.
Kamis, menteri luar negeri Uni Eropa juga menyepakati sanksi baru terhadap Iran yang menyasar individu dan entitas terkait penindakan kekerasan terhadap demonstran. Uni Eropa secara terpisah menetapkan Garda Revolusi Iran sebagai organisasi teroris.
"Potensi serangan terhadap Iran meningkatkan premi geopolitik pada harga minyak," tulis analis Citigroup dalam catatan riset.
Di sisi lain, faktor geopolitik lain berpotensi menambah pasokan. Kremlin menyatakan Rusia kembali menegaskan undangan kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy untuk melakukan perundingan damai di Moskow, di tengah intensifnya upaya yang dipimpin Amerika untuk mengakhiri perang Ukraina yang hampir memasuki tahun keempat.
Kesepakatan damai berpotensi membuka kembali ekspor minyak Rusia dan menambah pasokan global, mengingat Rusia adalah produsen minyak terbesar ketiga dunia setelah Amerika dan Arab Saudi.
Perusahaan ekuitas swasta AS Carlyle Group juga dikabarkan mencapai kesepakatan awal untuk membeli sebagian besar aset luar negeri Lukoil, yang terpaksa dijual akibat sanksi Amerika.
Selain itu, Kazakhstan menyatakan Chevron akan mengambil langkah untuk memastikan operasional aman dan andal di ladang minyak raksasa Tengiz, dengan target mencapai produksi penuh dalam waktu sepekan.
"Gangguan di Kazakhstan, termasuk di terminal CPC dan ladang Tengiz, menghilangkan pasokan signifikan dari pasar," kata analis UBS Giovanni Staunovo.
Di Amerika Serikat, produksi minyak mentah terus pulih setelah badai musim dingin sempat memangkas output hingga puncaknya sekitar 2 juta barel per hari pada akhir pekan lalu.
Sementara itu, Indeks Dolar AS (Indeks DXY) tetap berada di bawah tekanan, mendekati level terendah sejak Februari 2022 terhadap sekeranjang mata uang utama. Pelemahan dolar cenderung menopang harga minyak karena membuat komoditas berdenominasi greenback lebih murah bagi pembeli global.
Federal Reserve menunjukkan nada yang lebih optimistis mengenai pasar tenaga kerja AS dan risiko inflasi, yang ditafsirkan oleh investor sebagai indikasi bahwa suku bunga dapat dipertahankan lebih lama.
Suku bunga yang lebih rendah akan mengurangi biaya pinjaman konsumen dan dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta permintaan minyak.
Trump, yang menginginkan the Fed menurunkan suku bunga, mengatakan ia bermaksud untuk mengumumkan pilihannya untuk menggantikan Chairman Jerome Powell minggu depan.
Analis juga mencatat selisih harga (premi) minyak Brent terhadap WTI melebar ke USD5,30 per barel, tertinggi sejak April 2024. Ketika selisih ini melampaui USD4 per barel, pengiriman minyak mentah Amerika ke luar negeri menjadi lebih menarik secara ekonomi, yang berpotensi mendorong ekspor AS. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发