Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dan Presiden China Xi Jinping sepakat menjalin kemitraan strategis untuk memperdalam ikatan kedua negara seiring meningkatnya ketidakpastian ekonomi dan ketegangan geopolitik global.
Melansir BBC, Jumat (30/1/2026), kesepakatan itu terjalin setelah Keir Starmer bertemu dengan Xi Jinping di Beijing, yang menjadikannya pemimpin Inggris pertama yang berkunjung ke China dalam delapan tahun terakhir.
Dalam kesempatan itu, China mengizinkan warga negara Inggris melakukan perjalanan ke negara itu hingga 30 hari tanpa visa. Menurut Keir hal ini merupakan salah satu poin penting karena mempermudah bisnis dan para pengusaha untuk berekspansi di China, sementara masyarakat juga dapat berlibur ke sana tanpa visa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
""Sebagai salah satu kekuatan ekonomi dunia, berbagai bisnis telah lama mendambakan cara untuk memperluas jejak mereka di China," kata Keir.
"Kami akan mempermudah mereka untuk melakukan hal tersebut, termasuk melalui pelonggaran aturan visa untuk perjalanan jangka pendek, mendukung mereka untuk berekspansi ke luar negeri, sekaligus meningkatkan pertumbuhan dan lapangan kerja di dalam negeri," terangnya lagi.
Lebih lanjut, Kantor Perdana Menteri di Downing Street juga mengatakan Inggris dan China telah sepakat untuk menjajaki kemungkinan negosiasi mengenai perjanjian jasa, yang akan menetapkan aturan yang jelas dan mengikat secara hukum bagi perusahaan-perusahaan Inggris yang berbisnis di China.
Kemungkinan negosiasi ini menjadi sangat penting bagi Inggris mengingat mereka merupakan pengekspor jasa terbesar kedua di dunia termasuk di bidang keuangan, perawatan kesehatan, dan jasa hukum. Sementara permintaan dari China di bidang tersebut terus meningkat.
"Salah satu alasan dilakukannya dialog adalah untuk memastikan bahwa kita dapat memanfaatkan peluang yang ada, yang telah kita lakukan, tetapi juga melakukan diskusi yang matang tentang isu-isu yang kita tidak sepakati," tambah Keir.
Namun, kunjungan Keir Starmer ke China ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan perdagangan antara AS dan Kanada setelah Presiden Donald Trump mengancam akan mengenakan tarif 100% kepada Negara Daun Maple itu karena menandatangani kemitraan strategis dengan China.
Akibatnya kunjungan tersebut sempat menuai kritik dari partai-partai oposisi, dengan pemimpin Partai Konservatif Kemi Badenoch mengatakan bahwa dia tidak akan pergi ke China saat ini jika dia menjadi Perdana Menteri.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump juga sempat mengatakan pada Kamis (29/1) kemarin bahwa 'sangat berbahaya' bagi Inggris untuk berurusan dengan China, menjadi tanda bahwa ia memperhatikan kesepakatan yang baru terjalin antara kedua negara itu.
(igo/fdl)作者:Ignacio Geordi Oswaldo -,文章来源detik_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

暂无评论,立马抢沙发