NEW YORK , investor.id -Harga minyak dunia ditutup ambles lebih dari 4% pada perdagangan Senin (2/2/2026). Pelemahan ituseiring meredanya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu berkurangnya kekhawatiran terhadap pasokan global. Penguatan dolar AS serta prakiraan cuaca yang lebih hangat di Amerika Serikat (AS) turut menekan harga.
Dikutip dari Reuter, harga minyak mentah Brent berjangka turun US$ 2,83 (4,08%) dan ditutup di level US$ 66,49 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$ 3,07 (4,71%) ke posisi US$ 62,14 per barel.
Penurunan harga minyak terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyatakan bahwa Iran tengah 'secara serius melakukan pembicaraan' dengan Washington, yang mengindikasikan adanya deeskalasi ketegangan dengan negara anggota OPEC tersebut.
Pejabat dari kedua negara juga mengonfirmasi kepada Reuters bahwa AS dan Iran akan melanjutkan kembali perundingan nuklir pada Jumat mendatang. Sebelumnya, pada Sabtu, Trump menyampaikan pernyataan tersebut hanya beberapa jam setelah pejabat keamanan tertinggi Iran, Ali Larijani, mengatakan bahwa pengaturan untuk negosiasi tengah disiapkan.
Selama Januari, ancaman berulang Trump terhadap Iran, termasuk potensi intervensi jika Teheran menolak kesepakatan nuklir atau terus menindak demonstran, telah menopang harga minyak. "Ancaman tersebut menjadi faktor utama yang menjaga harga minyak tetap tinggi sepanjang Januari," ujar analis Phillip Nova Priyanka Sachdeva.
Selain faktor geopolitik, penguatan dolar AS juga memberi tekanan tambahan. Dolar menguat setelah pelaku pasar menyambut positif penunjukan Kevin Warsh sebagai calon ketua The Fed berikutnya. Penguatan dolar membuat harga minyak yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi investor pemegang mata uang lain.
Faktor Cuaca AS
Tekanan juga datang dari prakiraan cuaca yang lebih hangat di AS. Kondisi ini menurunkan permintaan energi untuk pemanas, sehingga kontrak berjangka diesel, yang banyak digunakan untuk pemanasan dan pembangkit listrik, anjlok lebih dari 6%, menurut Ritterbusch and Associates.
Sebelumnya, kombinasi ketegangan di Timur Tengah dan fenomena polar vortex di AS sempat mendorong harga WTI naik 14% dan Brent menguat 16% sepanjang Januari, kata analis PVM dalam catatannya. Namun, dengan meredanya faktor-faktor tersebut, perhatian pasar kini kembali tertuju pada potensi peningkatan persediaan minyak global tahun ini.
Di sisi lain, OPEC + dalam pertemuan pada Minggu sepakat mempertahankan tingkat produksi minyak untuk Maret. Pada November lalu, kelompok tersebut juga telah membekukan rencana kenaikan produksi untuk periode Januari hingga Maret 2026, seiring melemahnya permintaan musiman.
Sumber : investor.id
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发