Harga Minyak Melonjak 3% di Tengah Ketegangan AS–Iran

avatar
· 阅读量 1,007

NEW YORK , investor.id -Harga minyak dunia melonjak sekitar 3% pada perdagangan Rabu (4/2/2026) waktu setempat. Kenaikan terjadi setelah laporan media menyebutkan rencana perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat berpotensi gagal, sehingga memicu kembali kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent ditutup naik US$ 2,13 (3,16%) ke level US$ 69,46 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melesat US$ 1,93 (3,05%) ke level US$ 65,14 per barel.
Lonjakan harga minyak terjadi setelah laporan Axios menyebutkan pemerintah AS menolak permintaan Iran untuk mengubah lokasi perundingan yang direncanakan berlangsung pada Jumat. Laporan tersebut mengutip dua pejabat AS.
Sepanjang pekan ini, pergerakan harga minyak terbilang fluktuatif, seiring tarik-menarik sentimen antara harapan meredanya ketegangan AS-Iran dan kekhawatiran meningkatnya risiko gangguan pasokan minyak global, khususnya di kawasan Selat Hormuz.
"Jika terjadi perang terbuka dengan Iran, pasokan minyak Iran sekitar 3,4 juta barel per hari bisa terancam. Namun, yang lebih signifikan adalah kendali Iran atas Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak cair dunia," ujar Direktur Energi dan Pengilangan ICIS Ajay Parmar.
Menurut Parmar, premi risiko geopolitik masih tertanam dalam harga minyak saat ini. Hal tersebut menjadi alasan utama mengapa harga minyak bertahan lebih tinggi dibandingkan level yang seharusnya tercermin dari kondisi fundamental pasar.
Timur Tengah Memanas
Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah militer AS pada Selasa (3/2/2026) menembak jatuh sebuah drone Iran yang disebut 'bergerak agresif' mendekati kapal induk AS di Laut Arab. Dalam insiden terpisah, sejumlah kapal cepat milik Iran juga dilaporkan mendekati kapal tanker berbendera AS di utara Oman.
AS dan Iran dijadwalkan menggelar pembicaraan di Oman pada Jumat, sebagaimana diungkapkan oleh seorang pejabat regional. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital ekspor minyak bagi negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Iran, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak, dengan sebagian besar pasokan dikirim ke kawasan Asia.
Dari sisi pasokan global, impor minyak Rusia oleh India tercatat menurun pada Januari, melanjutkan tren penurunan sejak Desember. Penurunan ini terjadi seiring upaya kilang minyak India mencari sumber alternatif akibat tekanan sanksi Barat dan berlanjutnya pembicaraan dagang antara AS dan India.
Dari AS, Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan penurunan stok minyak mentah pada pekan lalu, seiring badai musim dingin yang melanda sejumlah wilayah di negara tersebut.
Stok minyak mentah AS turun 3,5 juta barel menjadi 420,3 juta barel. Pada saat yang sama, produksi minyak AS turun ke level terendah sejak November 2024. Angka ini berbanding terbalik dengan ekspektasi analis yang memperkirakan kenaikan stok sebesar 489.000 barel.
Meski demikian, analis senior Price Futures Group Phil Flynn menilai, dampak penurunan stok terhadap harga minyak relatif terbatas. Pasalnya, penurunan tersebut lebih kecil dibandingkan estimasi American Petroleum Institute (API) yang sebelumnya memperkirakan penurunan stok lebih dari 11 juta barel.

Sumber : investor.id

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest