- Dolar AS menguat ke level tertinggi dua pekan didorong volatilitas pasar saham dan pelemahan pound setelah BoE menahan suku bunga.
- Penguatan dolar tertahan data tenaga kerja AS yang melemah, sementara pasar menilai The Fed belum terburu-buru memangkas suku bunga.
- Pound dan euro melemah di tengah ketidakpastian politik dan kebijakan moneter, sementara volatilitas pasar global tetap tinggi.
Ipotnews - Dolar AS menguat ke level tertinggi dalam dua pekan, Kamis, didorong meningkatnya volatilitas pasar saham dan pelemahan poundsterling setelah Bank of England (BoE) memutuskan mempertahankan suku bunga melalui pemungutan suara yang berlangsung ketat.
Penguatan dolar terjadi seiring meningkatnya sikap hati-hati investor terhadap risiko, sementara pelaku pasar mengevaluasi hasil musim laporan keuangan perusahaan Amerika Serikat yang kini memasuki paruh kedua, seperti dilansir Reuters, di New York, Kamis (5/2) atau Jumat (6/2) pagi WIB.
Meski demikian, pergerakan dolar masih relatif terbatas setelah serangkaian data tenaga kerja AS menunjukkan pelemahan, termasuk klaim pengangguran yang meningkat di atas perkiraan serta pembukaan lapangan kerja yang lebih rendah dari ekspektasi pada Desember.
Chief Market Strategist Bannockburn Global Forex, Marc Chandler, menilai arah dolar selanjutnya masih bergantung pada apakah mata uang tersebut bergerak mendatar atau melanjutkan penguatan lebih dalam. Dia menilai inflasi yang masih relatif tinggi dan kondisi ekonomi AS yang tetap solid membuat Federal Reserve belum terburu-buru memangkas suku bunga.
Chandler juga menambahkan pasar memperkirakan data ekonomi akan melunak ketika Kevin Warsh, yang dinominasikan sebagai bos the Fed berikutnya, mulai menjabat. Namun, proses konfirmasi Warsh berpotensi menghadapi hambatan politik, karena sejumlah anggota Partai Republik menyatakan tidak akan melanjutkan proses tersebut hingga penyelidikan terhadap Chairman Fed saat ini, Jerome Powell, diselesaikan.
Indeks Dolar AS (Indeks DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang enam mata uang utama lainnya, terakhir menguat 0,18 persen menjadi 97,85, sekaligus mencatat kenaikan dua hari berturut-turut dan sempat menyentuh level tertinggi sejak 23 Januari.
Di pasar komoditas, emas dan perak kembali tertekan akibat aksi jual baru di tengah meningkatnya volatilitas yang dipicu aktivitas spekulatif. Harga perak tercatat anjlok 15,66 persen menjadi USD74,25 per ons.
Nasdaq Composite Index juga melorot 2,9 persen dalam dua hari terakhir, menjadi penurunan terbesar sejak Oktober. Volatilitas dipicu laporan kinerja raksasa teknologi, termasuk Alphabet yang mengumumkan rencana belanja modal agresif, serta tekanan pada saham perangkat lunak di tengah perubahan industri menuju era kecerdasan buatan generatif.
Pound Tertekan
Sterling merosot 0,75 persen terhadap dolar AS menjadi USD1,3550 dan turun 0,62 persen versus euro setelah BoE mempertahankan suku bunga melalui keputusan tipis 5 banding 4 di antara sembilan anggota komite kebijakan moneternya.
Mata uang Inggris tersebut sempat menyentuh level terendah dalam dua pekan, tertekan oleh kekhawatiran terhadap stabilitas politik di dalam negeri. Pasar menyoroti potensi tekanan terhadap Perdana Menteri Keir Starmer menyusul keputusan penunjukan Peter Mandelson sebagai duta besar Inggris untuk Amerika Serikat, meski mengetahui hubungannya dengan Jeffrey Epstein.
Head of FX Strategy Rabobank London, Jane Foley, mengatakan posisi politik perdana menteri berpotensi semakin tertekan setelah pemilihan lokal Mei mendatang, dan ketidakpastian kepemimpinan Partai Buruh dapat menambah tekanan terhadap pound.
Di kawasan Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) juga mempertahankan suku bunga dalam pertemuan kebijakan pada hari yang sama. Euro tercatat melemah tipis 0,16 persen menjadi USD1,1788.
Pelaku pasar menilai peluang pemangkasan suku bunga ECB tahun ini relatif kecil. Meski volatilitas pasar meningkat sejak awal tahun, posisi euro hanya sekitar 0,4 persen lebih tinggi dibandingkan saat pertemuan ECB terakhir pada Desember.
Namun, secara tahunan euro masih menguat sekitar 13 persen terhadap dolar AS, yang menimbulkan kekhawatiran pembuat kebijakan atas dampaknya pada tekanan harga di kawasan, di tengah inflasi zona euro yang turun ke sekitar 1,7 persen atau di bawah target ECB sebesar 2 persen. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发