- Kuota produksi Weda Bay Nickel dipangkas dari 42 juta ton menjadi 12 juta ton bijih pada 2026
- Harga nikel di London melonjak hingga 2,8% akibat potensi pengetatan pasokan global
- Kebijakan pembatasan dinilai bisa menekan operasi tambang dan mengganggu rantai pasok internasional
Ipotnews - Tambang nikel terbesar di dunia, Weda Bay Nickel di Halmahera, Maluku Utara, diperintahkan memangkas produksi secara signifikan sebagai bagian dari langkah pemerintah Indonesia untuk mendongkrak harga global logam baterai tersebut.
Sumber menyebutkan Weda Bay Nickel hanya akan menerima kuota produksi sebesar 12 juta ton bijih tahun ini, jauh turun dari 42 juta ton pada 2025. Dampak kebijakan ini langsung terasa di pasar, dengan harga kontrak berjangka nikel di London melonjak setelah kabar tersebut beredar.
Tambang ini dimiliki oleh Tsingshan Holding Group, perusahaan Prancis Eramet, serta PT Aneka Tambang Tbk/Antam (
ANTM
). Dalam pernyataan pada Rabu (11 Februari), Eramet mengonfirmasi besarnya pengurangan kuota tersebut dan menyatakan akan mengajukan revisi.Dampak ke Harga dan Pasar Global
Langkah pembatasan produksi ini mempertegas strategi agresif Indonesia untuk mengerek harga komoditas ekspor utamanya. Sebelumnya, lonjakan produksi Indonesia -- yang mencapai sekitar 65% dari total produksi dunia -- telah menyebabkan harga nikel anjlok selama dua tahun terakhir. Kondisi itu memaksa sejumlah tambang di Australia dan Kaledonia Baru tutup akibat tekanan harga.
Kini, dengan pengetatan pasokan, pasar merespons positif. Harga nikel tiga bulan di London Metal Exchange sempat naik 2,8% menjadi US$17.980 per ton, sebelum diperdagangkan di US$17.885 per ton pada pukul 09.01 waktu London.
Namun, saham Eramet justru sempat turun hingga 5,7%, mencerminkan kekhawatiran investor atas dampak langsung terhadap kinerja perusahaan.
Tekanan bagi Industri dan Rantai Pasok
Pemangkasan kuota ini menjadi pukulan berat bagi Weda Bay Nickel yang sebelumnya berencana meningkatkan produksi hingga lebih dari 60 juta ton untuk mendukung kawasan industri besar di sekitarnya.
Alih-alih ekspansi, perusahaan kini bahkan terpaksa mengimpor bijih nikel dalam jumlah besar dari Filipina karena keterbatasan pasokan lokal.
Permintaan nikel sendiri berasal dari industri baja nirkarat dan baterai kendaraan listrik (EV). Namun, pertumbuhan permintaan dari sektor EV mengecewakan akibat peralihan ke teknologi baterai non-nikel.
Kebijakan Lebih Luas dan Risiko Penutupan Tambang
Indonesia juga mengambil langkah serupa pada komoditas batu bara termal. Kuota produksi eksportir terbesar dunia itu dikabarkan akan dipangkas hingga mendekati seperempat dibanding tahun sebelumnya.
Asosiasi Pertambangan Batu Bara Indonesia memperingatkan bahwa kebijakan pembatasan ini dapat memaksa sejumlah operasi tambang berhenti dan membuat pembeli luar negeri kesulitan mencari pasokan alternatif.
Pemerintah mengendalikan produksi melalui izin tahunan, yang masih dapat disesuaikan pada pertengahan tahun. Artinya, realisasi produksi akhir bisa berbeda dari angka awal yang ditetapkan.
Pada Januari lalu, harga nikel sudah lebih dulu menguat setelah Indonesia memberi sinyal akan memangkas target produksi bijih menjadi sekitar 260 juta ton tahun ini, turun dari target 379 juta ton pada 2025.
Selain tekanan produksi, Weda Bay Nickel juga masih menghadapi sanksi atas pelanggaran izin kehutanan, yang membuat pemerintah mengambil alih 148 hektare lahan tambang. Denda yang dikenakan diperkirakan mencapai sekitar Rp3 triliun.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan kuota produksi masih dalam tahap evaluasi. Sementara itu, pihak Weda Bay Nickel, Tsingshan, dan Antam belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.(Bloomberg/AI)
Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发