- Rupiah ditutup melemah tipis ke Rp16.836 per dolar AS, seiring pelaku pasar bersikap hati-hati menanti rilis data inflasi AS Januari yang menjadi penentu arah suku bunga The Fed.
- Dolar AS menguat setelah data tenaga kerja AS menunjukkan ketahanan, sementara pasar mewaspadai potensi inflasi yang kembali lebih tinggi dari ekspektasi; risiko geopolitik global masih campuran.
- Fundamental domestik dinilai tetap kuat dengan proyeksi pertumbuhan sekitar 5% pada 2026 dan peluang peningkatan ekspor, meski tantangan konsumsi dan realisasi investasi masih membayangi.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah tipis pada akhir perdagangan Jumat (13/2), seiring sikap hati-hati pelaku pasar yang menanti rilis data inflasi Amerika Serikat periode Januari 2026 pada malam nanti.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup turun 8 poin atau 0,05% ke level Rp16.836 per dolar AS, dibandingkan penutupan Kamis (12/2) di Rp16.828 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, tekanan terhadap rupiah dipengaruhi sentimen eksternal, terutama ketidakpastian arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve.
"Dolar AS pulih dari titik terendah mingguan setelah data penggajian non-pertanian pada hari Rabu," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Menurut dia, fokus pasar kini tertuju pada data indeks harga konsumen (CPI) AS Januari yang akan dirilis Jumat waktu setempat. Inflasi dan kekuatan pasar tenaga kerja menjadi pertimbangan utama The Fed dalam menentukan arah suku bunga.
"Pasar secara luas memperkirakan CPI utama dan inti akan mendingin pada bulan Januari. Tetapi angka Januari secara konsisten mengejutkan dengan angka yang lebih tinggi selama empat tahun terakhir, membuat pasar waspada terhadap angka yang cenderung agresif," ungkap Ibrahim.
Dari sisi geopolitik, risiko di Timur Tengah cenderung mereda setelah mantan Presiden AS Donald Trump menyebut negosiasi potensi kesepakatan nuklir dengan Iran dapat berlangsung hingga satu bulan. Prospek perundingan yang lebih panjang dinilai meredakan kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Meski demikian, ketegangan di Eropa kembali meningkat setelah serangan pesawat nirawak Ukraina memicu kebakaran di kilang minyak Lukoil di wilayah Komi, Rusia barat laut, serta serangan di kilang wilayah Volgograd. Perkembangan ini menambah ketidakpastian pasar energi global.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai prospek ekonomi Indonesia tetap relatif kuat meskipun pertumbuhan diproyeksikan berada di kisaran 5% pada 2026 di tengah perlambatan ekonomi global dan Asia. Pelonggaran kebijakan moneter global yang berlanjut seiring tren inflasi yang mereda dinilai dapat menjadi faktor penopang.
Ia menambahkan, tantangan utama berasal dari keberlanjutan konsumsi swasta dan efektivitas realisasi investasi. Namun, dalam jangka menengah, fundamental ekonomi Indonesia dinilai tetap solid.
Indonesia juga dinilai memiliki potensi besar dalam indeks potensi ekspor lintas negara, dengan mempertimbangkan kapasitas manufaktur, tenaga kerja terampil, biaya tenaga kerja, lingkungan bisnis, serta energi. Dalam pemeringkatan tersebut, Indonesia menempati posisi kelima di bawah Vietnam, sementara China berada di peringkat pertama.
"Kemudian, di tengah kebutuhan global yang semakin besar terhadap kapasitas produksi dan pasokan, Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan momentum tersebut, sehingga di tahun mendatang pertumbuhan ekonomi diprediksi akan lebih baik lagi," papar Ibrahim.(Adhitya/AI)
Sumber : admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发