Rupiah Ditutup Melemah Akibat Kembali Meningkatnya Ketegangan AS-Iran

avatar
· 阅读量 1,584
  • Rupiah ditutup melemah 10 poin ke Rp16.894 per dolar AS dipicu penguatan dolar akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, terutama perundingan AS-Iran yang berisiko mengganggu pasokan energi global.
  • Risalah The Fed yang menyoroti risiko inflasi masih tinggi serta berkurangnya ekspektasi pemangkasan suku bunga turut menopang dolar AS dan menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
  • Dari domestik, pemerintah menolak usulan IMF menaikkan PPh 21 dan memilih memperluas basis pajak serta menjaga defisit di bawah 3% PDB, dengan defisit 2025 tercatat sekitar 2,92%.

Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup melemah pada perdagangan Kamis (19/2), tertekan penguatan dolar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya terkait perundingan nuklir Amerika Serikat dengan Iran yang kembali memanas.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup turun 10 poin atau 0,06% ke level Rp16.894 per dolar AS, dibandingkan akhir perdagangan Rabu (18/2) di Rp16.884 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, penguatan dolar AS dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko di Timur Tengah setelah pernyataan Wakil Presiden AS JD Vance bahwa Iran belum memenuhi tuntutan utama Washington dalam perundingan nuklir.
"Investor tetap fokus pada risiko Timur Tengah setelah Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan Iran gagal memenuhi tuntutan utama AS dalam pembicaraan. Namun Washington memberi Teheran waktu dua minggu untuk mengatasi kesenjangan," tulis Ibrahim dalam publikasi risetnya sore ini.
Ia menambahkan, pernyataan Presiden AS Donald Trump yang membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer jika diplomasi gagal, serta laporan peningkatan aktivitas militer di kawasan Teluk, semakin memperkuat persepsi pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.
Selain faktor geopolitik, risalah rapat Federal Reserve juga memberi dukungan pada penguatan dolar AS. Menurut Ibrahim, para pejabat The Fed masih melihat risiko inflasi cenderung meningkat, meskipun terdapat perbedaan pandangan mengenai perlunya kenaikan suku bunga lanjutan.
"Para pembuat kebijakan secara umum sepakat bahwa risiko inflasi tetap cenderung ke atas, tetapi berbeda pendapat tentang seberapa ketat kebijakan yang harus diterapkan dan berapa lama suku bunga harus tetap tinggi," ungkap Ibrahim.
Ia menambahkan, pelaku pasar kini menurunkan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, meskipun kontrak berjangka masih menunjukkan peluang penurunan pada Juni. Investor juga menantikan rilis data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) AS sebagai indikator inflasi utama.
Dari dalam negeri, sentimen turut dipengaruhi sikap pemerintah yang menolak rekomendasi Dana Moneter Internasional (IMF) untuk menaikkan Pajak Penghasilan (PPh) 21 demi menjaga defisit APBN di bawah 3% terhadap PDB.
Menurut Ibrahim, pemerintah memilih fokus pada perluasan basis pajak dan peningkatan kepatuhan dibanding menaikkan tarif. "Pemerintah saat ini lebih fokus pada perluasan basis pajak dan penutupan kebocoran penerimaan dibanding menaikkan tarif pajak. Selain itu, pemerintah berupaya mendorong pertumbuhan ekonomi agar penerimaan pajak meningkat secara alami dan defisit anggaran dapat ditekan," jelas Ibrahim.
IMF sebelumnya mencatat defisit anggaran Indonesia pada 2025 berada di kisaran 2,92% terhadap PDB, mendekati batas maksimal 3% yang ditetapkan pemerintah, serta menyarankan peningkatan bertahap pajak karyawan sebagai opsi pembiayaan jangka panjang untuk mendukung investasi publik dan target pembangunan menuju Visi Emas 2045.(Adhitya/AI)

Sumber : admin

风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

喜欢的话,赞赏支持一下
回复 0

暂无评论,立马抢沙发

  • tradingContest