- Rupiah menguat tipis +0,04% ke Rp16.888/USD, didorong perjanjian dagang resiprokal Indonesia-AS.
- Tekanan dolar AS tetap kuat akibat data ekonomi positif dan nada hawkish FOMC .
- Pasar menunggu data AS (PDB, PCE, PMI) yang akan tentukan arah rupiah jangka pendek.
Ipotnews - Nilai tukar rupiah ditutup menguat tipis versus dolar AS pada perdagangan akhir pekan, didorong sentimen positif dari penandatanganan perjanjian dagang resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat. Kesepakatan ini meningkatkan optimisme pasar terhadap prospek ekonomi domestik.
Berdasarkan data Bloomberg pada pukul 15.00 WIB, rupiah menguat 6 poin atau 0,04% menjadi Rp16.888 per dolar AS, dibandingkan penutupan kemarin, yakni Rp16.894.
Pengamat ekonomi dan mata uang, Ibrahim Assuaibi, menilai penguatan rupiah masih terbatas oleh kondisi dolar AS yang solid di pasar global.
Menurutnya, risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal ( FOMC ) periode Januari menunjukkan nada hati-hati, namun cenderung hawkish, sehingga pemotongan suku bunga jangka pendek dinilai tidak mungkin dilakukan.
"Risalah tersebut membuat dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah tetap stabil, menekan logam mulia yang tidak menghasilkan bunga," tulis Ibrahim dalam risetnya, Jumat (20/2) petang.
Selain itu, data ekonomi Amerika yang lebih kuat dari perkiraan turut menopang dolar AS. Klaim pengangguran awal turun menjadi 206 ribu, jauh di bawah perkiraan 225 ribu, sementara Survei Manufaktur Federal Reserve Philadelphia naik ke 16,3 pada Februari, melampaui ekspektasi 8,5. "Data ekonomi Amerika yang optimis menguatkan dolar AS dan menambah tekanan pada harga emas," ucap Ibrahim.
Dari sisi geopolitik, ketegangan antara Amerika dan Iran tetap menjadi risiko global. Militer AS dilaporkan mempersiapkan kemungkinan serangan terhadap Iran, sementara Presiden Donald Trump memberikan tenggat 10-15 hari bagi Teheran untuk mencapai kesepakatan nuklir.
Meski demikian, sentimen domestik menjadi penopang bagi rupiah. Pemerintah Indonesia dan Amerika resmi menandatangani perjanjian perdagangan resiprokal bertajuk "Implementation of the Agreement toward New Golden Age US-Indonesia Alliance" di Washington DC.
Perjanjian ini mencakup 11 nota kesepahaman (MoU), pembentukan dewan ekonomi permanen, penurunan tarif ribuan pos produk, serta komitmen pembelian energi dan pesawat. Kesepakatan yang diteken Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump ini diharapkan memperkuat keamanan ekonomi dan mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data ekonomi utama AS nanti malam, termasuk pembacaan awal Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal IV, Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), serta indeks PMI Global S&P. Hasil data ini diperkirakan memengaruhi arah pergerakan mata uang global dan rupiah dalam jangka pendek. (Adhitya/AI)
Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发