- Harga CPO turun, tertekan penguatan ringgit dan ekspor yang lemah.
- Ekspor minyak sawit Malaysia turun 8,9%-12,6%, ringgit kuat tekan daya saing.
- Analis prediksi harga CPO bisa kembali ke level tertinggi akibat sentimen positif minyak nabati.
Ipotnews - Harga minyak sawit (CPO) berjangka Malaysia melemah untuk sesi ketiga berturut-turut, Selasa, terbebani penguatan ringgit serta data ekspor yang menunjukkan kinerja yang lemah.
Kontrak minyak sawit berjangka di Bursa Malaysia Derivatives Exchange turun 12 ringgit, atau 0,29%, menjadi 4.071 ringgit (USD1.043,85) per ton metrik pada jeda tengah hari, demikian laporan Reuters, di Jakarta, Selasa (24/2).
Selama sesi pagi, harga kontrak tersebut bergerak di kisaran 4.071 hingga 4.117 ringgit per ton.
Paramalingam Supramaniam, Direktur Pelindung Bestari, pialang yang berbasis di Selangor, mengatakan pasar saat ini sedang mencari arah baru. "Tidak ada banyak berita yang dapat menggerakkan pasar," ujar Supramaniam, menambahkan bahwa penguatan ringgit dan data ekspor yang buruk memberikan tekanan terhadap harga minyak sawit.
Ekspor produk minyak sawit Malaysia sepanjang periode 1-20 Februari diperkirakan merosot antara 8,9% hingga 12,6% dibandingkan bulan sebelumnya, menurut data dari surveior kargo Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia.
Meski ringgit Malaysia mengalami penurunan 0,18% terhadap dolar AS, mata uang ini tetap diperdagangkan di sekitar level terkuatnya sejak April 2018, yang memberikan tekanan pada harga minyak sawit.
Ringgit yang kuat membuat harga CPO lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lainnya, yang pada gilirannya dapat mengurangi daya saing ekspor Malaysia.
Di pasar global, minyak kedelai Dalian, China, mencatatkan lompatan 1,09%, sementara kontrak minyak sawitnya juga menguat 1,03%. Di Chicago Board of Trade, harga minyak kedelai naik 0,1%.
Harga CPO mengikuti pergerakan minyak pesaing lainnya, karena berkompetisi dalam merebut pangsa pasar minyak nabati (vegetable oil) global.
Meski CPO mengalami tekanan, beberapa analis memperkirakan harga dapat kembali menguji level tertinggi yang tercatat pada 20 Februari, yakni 4.156 ringgit per ton. Hal ini kemungkinan akan didorong pola pergerakan pasar yang dipengaruhi sentimen positif terhadap harga minyak nabati lainnya. (Reuters/AI)
Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发