- Kurma untuk MBG
- Untung Tipis
Penjualan kurma di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat meningkat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Lonjakan ini didorong oleh permintaan kurma untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan suci Ramadan.
"Kalau kenaikan itu kan terbagi banyak faktor. Pertama memang dari daya beli, dan ada juga tahun ini kan kurma buat MBG. Jadi, daya serap itu banyaknya buat MBG," kata pemilik jaringan toko Mekkah Group di Pasar Tanah Abang Blok F, Andi kepada detikcom, Rabu (25/2/2026).
Tak tanggung-tanggung, Andi mengatakan pada Ramadan tahun ini jaringan toko miliknya bisa menjual sekitar 4-5 ton kurma setiap harinya. Ini belum termasuk pesanan kurma untuk MBG.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita hitung non-MBG ya. Kita kan toko ada 14 cabang dan saya kan bagian pembelanjaan. Sehari bisa keluar 3-4 ton sih untuk 14 toko. Untuk MBG kan kita nggak cuma satu yang beli. Mereka ada yang berani ambil setelah instruksi, ada yang duit cair baru ambil, ada juga kalau dia habis baru ambil, kan nggak menentu. Kayak hari ini misalnya dapat orderan 100 karton, berarti 1 ton, itu kan dadakan," ucapnya.
Baca juga: Hati-hati Kurma Israel di Bulan Puasa, Ini Merek dan Ciri-cirinya |
Kurma untuk MBG
Lebih lanjut, Andi mengatakan jenis kurma yang menjadi primadona untuk keperluan MBG adalah kurma Mesir dan kurma yang berasal dari Uni Emirat Arab seperti Khalas dan Sayer. Jenis kurma ini cenderung kering sehingga tahan lebih lama, dan tentu memiliki harga yang lebih murah untuk kelas kurma medium.
Bahkan saking banyaknya permintaan untuk keperluan MBG, belakangan ini harga kurma Mesir naik sangat tinggi, dari yang biasanya Rp 190.000 per dus ukuran 10 kilogram (kg), kini harga sudah naik ke kisaran Rp 350.000 per dus.
"Jadi yang kenaikan untuk tahun ini seri kurma murah yang kering, kaya Khalas dan Mesir, disebabkan oleh permintaan MBG. Soalnya kan instruksi dari menteri yang kuat sampai 12 jam biar tidak menyebabkan keracunan, dan kita merekomendasikan satu Khalas, dua Mesir kalau untuk MBG," jelasnya.
Sementara untuk jenis kurma lainnya, terutama kurma premium seperti Ajwa atau Medjool menurut Andi saat ini cenderung mengalami penurunan permintaan. Sebab kedua jenis ini tidak terserap pasar MBG maupun masyarakat umum.
"Kurma yang terserap oleh MBG contohnya kurma Mesir, kurma Emirat yang seri Khalas seri Sayer. Nah, kalau untuk kurma yang lain, tahun ini sebenarnya stagnan dan cenderung turun," tegasnya.
Baca juga: Waduh! Jelang Puasa, Nasib Pedagang Tanah Abang Tak Sama |
Untung Tipis
Meski pesanan kurma jauh meningkat berkat program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini, Andi mengaku besaran margin keuntungan yang bisa diambil justru turun drastis. Biasanya ia mematok keuntungan sekitar Rp 5.000 per kilogram kurma yang dijual. Khusus untuk pesanan MBG, ia hanya mematok sekitar Rp 2.000 per kilogram.
"Kenaikan omzet tapi pengurangan keuntungan. Soalnya kalau ke MBG kan kita sama pemerintah nggak boleh ambil untung besar. Soalnya SPPG pengambilan banyak, 100 karton. Untungnya Rp 20.000 per karton, kali saja itu, paling Rp 2 juta. Padahal kita modal besar, modal Rp 30 juta untung Rp 2 juta ya sudah lah," terangnya.
Kondisi ini membuat omzet penjualan kurma selama Ramadan tahun ini sekitar 50% lebih tinggi dibandingkan 2025 lalu alias sekitar 1,5 kali lipat.
"Kenaikan omzet ya cuma 1,5 kali lipat dari Ramadan tahun lalu, nggak yang mencolok banget. Cuma memang kelihatannya secara kuantitas banyak, barang keluar. Namanya untung tipis," pungkas Andi.
(fdl/fdl)作者:Ignacio Geordi Oswaldo -,文章来源detik_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

暂无评论,立马抢沙发