Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memanas usai Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran dan terjadi aksi saling balas.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan serangan AS-Israel ke Iran akan memukul ekonomi Indonesia lewat harga energi yang meningkat. Harga minyak dunia yang sekarang sudah berada di kisaran US$ 70 per barel diperkirakan naik sampai US$ 80 per barel.
"Iran adalah negara yang cukup kuat dari sisi pertahanan, jadi ada kemungkinan bahwa ini akan berlangsung lebih lama dari yang diperkirakan. Artinya, kalau risiko bagi Indonesia adalah kemungkinan harga minyak akan meningkat," kata Faisal kepada detikcom, Minggu (1/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Timur Tengah Memanas, Pertamina Pantau Ketat Pekerja-Operasional |
Jika perang terus berlanjut dan mempengaruhi pasokan minyak di selat Hormuz, harga minyak dunia diperkirakan bisa tembus US$ 100 per barel. "Artinya itu sudah masuk ke zona yang tinggi, rekor sudah beberapa tahun sebetulnya kita tidak mengalami kenaikan setinggi itu, tertinggi ketika awal perang Rusia dengan Ukraina," tambah Faisal.
Jika harga minyak sudah sampai US$ 100 per barel, Faisal memperkirakan terjadi kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri termasuk yang disubsidi pemerintah yakni Pertalite dan Solar. Jika itu tidak terjadi, belanja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) akan bengkak.
"Kalau BBM yang tidak disubsidi sudah pasti naik ya karena dia fluktuatif mengikuti harga pasar. Lebih parah adalah kenaikan atau penyesuaian dari harga BBM yang disubsidi karena ini penggunanya paling banyak dan mencakup masyarakat menengah kelas bawah terutama Pertalite dan Solar," ucapnya.
Baca juga: AS-Israel Serang Iran, Ini Dampaknya ke Ekonomi RI |
Tidak berhenti sampai di situ, Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menambahkan bahwa kenaikan biaya itu dapat merambat ke ongkos transportasi dan logistik. Ujungnya mendorong inflasi biaya pada pangan dan barang konsumsi.
"Pada saat yang sama, gejolak geopolitik biasanya memicu arus modal global berpindah ke aset aman sehingga rupiah menghadapi tekanan dan imbal hasil SBN berisiko naik karena investor meminta kompensasi risiko lebih tinggi," jelas Syafruddin.
Dampak tidak langsungnya adalah perusahaan menunda investasi, eksportir menghadapi biaya pembiayaan dan logistik yang lebih mahal, sementara konsumsi melemah ketika ekspektasi inflasi naik.
"Kementerian teknis harus memperkuat stabilisasi pangan dan logistik karena jalur inilah yang paling cepat mengubah kenaikan biaya energi menjadi kenaikan harga harian. Indonesia juga perlu mengaktifkan diplomasi ekonomi dan kerja sama kawasan untuk mendorong de-eskalasi dan menjaga kelancaran jalur perdagangan," ucap Syafruddin.
(aid/acd)作者:Anisa Indraini -,文章来源republika_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。

暂无评论,立马抢沙发