- Mata uang dan saham emerging market melemah pada awal perdagangan Asia, dipicu kekhawatiran konflik Iran dan lonjakan harga minyak.
- Indeks mata uang EM turun 0,5% untuk hari kedua beruntun, sementara saham EM terkoreksi hingga 1% seiring penguatan dolar dan emas.
- Eskalasi konflik menekan aset berisiko, terutama di negara pengimpor minyak, meski saham energi dan pelayaran justru menguat.
Ipotnews - Mata uang dan saham emerging market melemah pada sesi pembukaan perdagangan Asia, Senin (2/3). Kekhawatiran konflik Iran dan lonjakan harga minyak membebani sentimen terhadap aset berisiko.
Laman Bloomberg melaporkan, indeks mata uang negara berkembang turun 0,5%, mencatat penurunan untuk sesi kedua berturut-turut, seiring penguatan dolar AS. Peso Filipina dan dolar Taiwan menjadi yang terlemah di antara mata uang sejenis. Pasar Korea Selatan tutup karena hari libur.
Saham EM juga terkoreksi hingga 1%, penurunan terdalam dalam lebih dari dua pekan terakhir.
Eskalasi ketegangan di Iran yang meluas ke kawasan telah mengganggu berbagai sektor, mulai dari minyak dan pelayaran hingga transportasi udara. Harga minyak mentah Brent melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari setahun sebelum memangkas kenaikan. Dolar AS dan emas menguat karena investor memburu aset aman.
Kondisi ini semakin menekan mata uang EM dan memicu kekhawatiran inflasi. Laman Reuters melaporkan, Banl Indonesia terus memantau pergerakan pasar secara ketat sebagai respons terhadap konflik di Timur Tengah, dan akan mengambil langkah yang tepat untuk memastikan rupiah bergerak sejalan dengan fundamental.
"Ini adalah guncangan yang mendorong pelemahan emerging market ," kata Brendan McKenna, ahli strategi pasar berkembang di Wells Fargo, New York. Ia menambahkan respons Iran kali ini lebih agresif dibanding sebelumnya, dengan Selat Hormuz praktis tertutup dan kerja sama AS-Israel yang semakin intensif.
"Guncangan ini, dikombinasikan dengan tema bahwa aset EM sudah dinilai mahal dan terlalu banyak dimiliki pada level saat ini, berpotensi memicu aksi jual pada hari-hari awal konflik," ujarnya kepada Bloomberg.
Menurut Sim Moh Siong dan Christopher Wong, analis di Oversea-Chinese Banking Corp, negara-negara yang sangat bergantung pada impor minyak seperti Korea Selatan, Taiwan, India, Filipina, dan Thailand berpotensi mengalami kinerja mata uang yang lebih buruk.
Eskalasi konflik juga mendorong kenaikan saham energi, pelayaran, pertahanan, dan emas di Asia, sementara saham maskapai, perjalanan, dan saham pertumbuhan tertekan. Saham perusahaan pelayaran Taiwan, Wan Hai Lines dan Evergreen Marine, menguat, sedangkan Singapore Airlines, Japan Airlines, dan EVA Airways melemah. (Bloomberg)

Sumber : Admin
作者:indopremier_id,文章来源indopremier_id,版权归原作者所有,如有侵权请联系本人删除。
风险提示:本文所述仅代表作者个人观点,不代表 Followme 的官方立场。Followme 不对内容的准确性、完整性或可靠性作出任何保证,对于基于该内容所采取的任何行为,不承担任何责任,除非另有书面明确说明。
喜欢的话,赞赏支持一下

暂无评论,立马抢沙发